Sunday, January 17, 2010

Menjadi Objek Tulisan

Bagian ini merupakan sambungan tulisan sebelumnya. Tetapi dengan tema yang berbeda, yaitu "Menjadi Objek Tulisan", yang sengaja saya tulis untuk menyanggap kawan saya yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan ilmuwan islam yang saya jadikan referensi demi menambah khazanah pengetahuan saya tentang islam hanyalah sebuah subjek yang membutuhkan objek. Lebih lanjut dikatakan bahwa saya telah menjadi fans penulis (ilmuwan) tersebut.


Saya agak geli rasanya, bicara fans dalam konteks tokoh/idola why not?, sebenarnya bukan satu saja ilmuwan yang saya idolakan dan mereka terdiri dari beberapa orang dengan beberapa disiplin ilmu yang berbeda.

Sebenarnya, menokohkan seseorang karena ilmu dan akhlaknya atau karena kagum akan kejeniusanya merupakan hal yang lumrah dan manusiawi sebagaimana banyak ilmuwan menokohkan ilmuwan-ilmuwan yang lahir sebelumnya sebagai tokoh dan inspirasi keilmuanya ? Menokohkan merupakan wujud dari pembelajaran supaya kita dapat mengikuti jejak tokoh tersebut dalam kehidupanya, sebagaimana kita menokohkan Rasullulah sebagai uhwatun hasanah. Bahkan banyak ilmuwan terdahulu mengakui ilmuwan-ilmuwan sebelumnya sebagai tauladan dalam bidang tertentu dan mentokohkan yang lainya sebagai tauladan dari bidang yang lainya lagi. Kata "fans" dalam arti menggilai seseorang meskipun orang tersebut jelas-jelas telah menunjukan kepandiranya, maka itulah yang sesat, karena apa yang akan kita jadikan contoh dari orang tersebut?

Kembali kepada statement "menjadi objek sang penulis" (Anehnya hal senada juga saya dapati dari tulisan seorang sufisme, bedanya si-sufi tersebut mengatakan "menjadi objek ilmu", "bukan objek penulis". Intinya Kurang lebih, si-sufisme ini mencoba mengatakan kurang penting dan tidak ada pentingnya ilmu kecuali mencapai tingkatan ma’rifat. Apa maksudnya ?)

Saya tidak akan menjawab peryataan si-sufisme saat ini. "Menjadi objek" sang penulis seperti yang kawan saya katakan sebenarnya agak sulit dicerna kecuali adanya suatu tuduhan bahwa semua penulis seolah-olah hanyalah orang yang menjadikan pembaca sebagai ladang subur untuk membeli hasil karya tulisanya dan mencari popularitas dan menciptakan penggemar-penggemar fanatil (baca:fans)?

Hal ini mungkin saja terjadi, tetapi sepanjang jaman tulisan-tulisan yang menghidupkan cara berpikir manusia tidak pernah habis-habisnya meskpiun ada pula orang-orang pandir yang hanya menulis kepandiranya dengan bahasa yang indah atau bahkan terkadang sulit sekali dimengerti atau memang untuk menciptakan kontroversi dan popularitas. Tetapi bagaimana mungkin kita bisa mengatakan tulisan yang satu ditulis oleh ilmuwan sejati sementara yang lainya ditulis oleh orang pandir yang haus pemuja jika kita tidak bisa membuktikanya dan membantahnya? Ataukah rasa mapan dan puas akan keyakinan yang kita anut membuat kita apatis dan mengklaim sesuatu itu adalah pasti salah karena bertentangan dengan keyakinan kita, tanpa perlu meneliti? Tentu saja kita punya hak untuk mengklaim kekeliruan kepada orang lain. Tetapi satu-satunya hak itu dapat kita penuhi jika kita dapat membuktikan kekeliruan tersebut. Jika tidak, tak ada hak bagi kita untuk menuduhnya bukan?

Terlepas dari sebuah tulisan itu berasal dari para penyair, pembual atau ilmuwan sekalipun faktanya tulisan merupakan media effektif dalam menyampaikan sebuah ide dan informasi. Apalagi dengan perkembangan teknolgi internet yang hampir dapat diakses dari berbagai penjuru dunia yang hari ini banyak dimanfaatkan oleh umat islam dari berbagai kalangan sebagai media da'wah yang effektif karena sulit untuk dibredel oleh musuh-musuh islam, setidaknya dibredel (baca:dia-hack) satu tumbuh seribu. Faktanya disatu sisi, teknologi yang notabene diciptakan orang-orang kafir ini, cukup membantu kita dalam membendung proses pembodohan manusia dimanapun terutama pembodohan orang islam.

Mengatakan membaca tulisan terutama yang berhubungan dengan informasi islam telah menjadikan diri kita sebagai objek penulis, apapun alasanya rasanya telah membawa kita kepada satu langkah, tapi sayangnya langkah kemunduran. Haruskah kita kembali ke jaman dimana kita hanya bisa mendapat informasi lisan dari pada guru-guru kita?

Saya berusaha terlepas dari sikap demikian dan berusaha menjadi orang yang sangat terbuka, bebas tetapi konsiten dalam hal menelaah informasi tersebut dengan akal sehat (dengan apalagi?) tanpa berpijak pada salah satu tokoh atau aliran tertentu yang pada ujungnya membuat diri kita taklid dan menutup diri akan kebenaran yang datang dari orang lain yang sudah terlanjur kita cap salah, apalagi dengan membatasi pikiran kita dengan menutup dan segera menuduh keliru pandangan seseorang tanpa kita mau mencari tahu hal yang sebenarnya seolah-olah kita sudah pasti berada ditempat yang paling benar, bahkan lebih parah lagi banyak orang yang berdalih dengan sangat gigih walaupun dalilnya sangat lemah dan kadang tanpa disadarinya. Jika demikian tentunya kita sudah tergelincir pada sebuah kondisi dimana kita akan lebih memilih untuk membakar rumah kita sendiri ketimbang merubah keyakinan kita sekalipun keyakinan terbukti keliru.

Jika sebuah pendapt atau tulisan memang tidak memiliki dasar yang kuat, mari sama-sama kita bantah dengan dalil yang kuat demi menyebarkan informasi yang benar dan mematahkan yang lemah aga tidak terjadi prasangka buta, sikap taklid yang, kurafat, dan kedunguan dalam beragama.

Dan tentu saja ulasan ini layak untuk dibantah, tentunya juga dengan dalil yang kuat dan saya berlepas diri dari kesombongan karenan kesalahan pasti datang dari saya dan kebenaran datang dari Allah SWT.

Untuk itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada kawan saya, Mari kita berbantah dengan cara yang baik demi mencari informasi yang benar dan belajar berargumen dengan dalil-dali yang jelas dan kuat. Komitment kita untuk berpegang kepada ajaran Islam yang sejati dan berlepas diri dari firqah-firqah yang yang tidak jelas apaun istilahnya merupakan start yang baik untuk memulainya.

wassalam

No comments:

Post a Comment