Penentuan awal bulan (bulan baru) ditandai dengan terlihatnya wujud bulan seperti sabit untuk pertama kali setelah proses konjungsi atau ijtimak. Ijtimak sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul. Dalam hal ini yang dimaksud Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi, Bulan dan Matahari berada sejajar dalam garis meridian yang sama.
Penentuan awal bulan (bulan baru) ditandai dengan terlihatnya wujud bulan seperti sabit untuk pertama kali setelah proses konjungsi atau ijtimak. Ijtimak sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul. Dalam hal ini yang dimaksud Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi, Bulan dan Matahari berada sejajar dalam garis meridian yang sama. Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodis. Setiap siklus 30 tahun pada sistem penanggalan Hijriyah, maka 11 tahun dijadikan tahun kabisat (dimana pada tahun kabisat ini bulan Dzulhijjah dijadikan 30 hari) sehingga jumlah hari dalam satu tahunnya berjumlah 355 hari. Sistem penanggalan ini juga memiliki 11 hari yang lebih cepat dari kalender Masehi, hal ini karena sistem tersebut menggunakan siklus sinodis bulan. Satu kali putaran sinodis dari bulan adalah 29.530588 hari atau tepatnya lagi adalah selama 29 hari 12 jam 44 menit 03 detik.
Siklus sinodis bulan bervariasi. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (terbitnya hilal) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi dimana pada saat yang bersamaan bumi justru berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (Perihelion). Sebaliknya, satu bulan yang berlangsung 29 hari adalah tepat saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Karena itulah seperti yang sudah kita singgung tadi bila hari-hari dalam satu bulan Hijriyah selalu berubah-ubah (29 – 30 hari). Semua ini menyusaikan dengan kedudukan Bulan, Bumi dan Matahari. Akibat dari peredaran bulan mengelilingi bumi maka permukaan bulan yang bercahaya kelihatan berubah dari hari ke hari dari bentuk sabit yang sangat halus bertambah menjadi lebih besar hingga menjadi purnama dan kembali tampak mengecil menjadi seperti sabit halus lagi
Bila pada sistem Kalender Masehi yang menganut Solar Year (penanggalan berbasis matahari) sebuah hari dan tanggal baru dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat, namun pada sistem Kalender Hijriyah yang menganut Lunar Year (penanggalan berbasis bulan) sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut (kurang lebih sekitar pukul 18:00). Pada saat terjadinya ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Dengan terbenamnya bulan sesaat sesudah terbenamnya matahari dalam penglihatan dibumi dikenallah istilah Bulan Baru. Sebagai konsekwensi maka keesokan harinya sudah harus dinyatakan sebagai awal tanggal pertama bulan Hijriyah berikutnya.
Berdasar kriteria inipula sejumlah organisasi massa Islam di Indonesia dan juga dunia menetapkan sistem penanggalan Hijriyah. Konsepsi ini dikenal pula dengan istilah Wujudul Hilal (ijtimak qoblal qurub). Melalui pembelajaran yang mendalam tentang perjalanan bulan ini maka kita sebenarnya sudah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Hal ini menjadi praktis tanpa harus melakukan proses rukyat atau melihat fisik bulan secara langsung dengan mata lahiriah manusia.
Kontroversi yang seringkali muncul kepermukaan adalah menyangkut kedudukan bulan setelah ia mengalami Ijtimaknya. Beberapa ulama seperti Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya “Shafwatut Tafasir” dan Sayyid Quthub melalui “Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an” mengulas surah Al-Baqarah ayat 189 tadi sebagai penampakan bulan sabit dari bumi oleh manusia. Artinya keadaan bulan itu harus benar-benar bisa dilihat dengan jelas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Apabila bulan baru itu tidak bisa dilihat atau menimbulkan keraguan maka jumlah bulan yang sebelumnya harus digenapkan menjadi 30. Pemahaman seperti ini selanjutnya menuntun kepada konsepsi penglihatan bulan sabit setelah ijtimak harus secara lahiriah atau rukyat bil fi’li.
Meski demikian, bisa tidaknya hilal tersebut dilihat atau diamati secara visual akan sangat bergantung pada waktu dan tempat pengamatan itu sendiri. Kebergantungan terhadap waktu adalah terkait dengan saat terbenamnya matahari dan kemunculan hilal serta usia dari hilal tersebut, yaitu adanya selang waktu penampakan hilal dari saat ijtimak. Selang waktu ini akan berakibat pendaran iluminasi dari cahaya Bulan tidak cukup kuat teramati karena dia masih terlalu suram dibandingkan pendaran cahaya matahari yang baru terbenam. Sedangkan kebergantungan terhadap tempat sangat erat kaitannya dengan posisi geografis orang yang melihatnya dibumi. Selain itu kendala cuaca dan awan juga ikut menentukan penampakan secara langsung. Beranjak dari sini maka timbullah kriteria tentang derajat bulan tertentu agar ia bisa tetap dapat dirukyat secara visual oleh manusia dibumi dari beberapa tempat yang berbeda.
Dengan tidak mengurangi penghormatan kita terhadap orang-orang yang memegang teguh pandangan diatas, maka sebenarnya apa yang dimaksud dengan melihat bulan sabit setelah ijtimak terjadi sehingga menghasilkan kepastian dan kejelasan mengenainya memiliki maksud untuk membuktikan sudah masuknya bulan baru atau syahida asy-syahr. Secara keilmuan, khususnya Astronomi modern yang sudah sampai pada taraf sedemikian majunya seperti jaman kita sekarang ini hal tersebut jelas-jelas bisa dilakukan tanpa kita harus melakukan rukyat secara lahiriah. Dengan kata lain maka kita bisa merukyat bil’ilmi atau bil’aqli. Tindakan ini tidak harus disikapi secara frontal sedemikian rupa sehingga seolah-olah kita maupun orang-orang lain yang melakukannya telah keluar dari garis ketentuan agama, hanya karena perbuatan ini tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.
Sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan penentuan bulan baru pada masanya yang merujuk pada visualisasi secara lahiriah bila kita lihat secara jujur dan pikiran terbuka (open minded) sama sekali tidak bertentangan dengan penetapan untuk hal yang sama dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan hasil kemajuan teknologi modern.
Bagaimana bisa kita berpendapat seperti itu, maka inilah argumentasi kita :
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari”. (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain)
Hadis diatas bisa kita lihat sebagai sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi Nabi Muhammad Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu. Dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan (termasuk baca, tulis dan menghitung). Jadi, jika ternyata umat beliau sekarang ini sudah lebih pandai dalam hal tersebut ketimbang umat dimasa lalu, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada. Hadis tersebut menjadi parameter lain untuk kita bila Nabi Muhammad Saw secara tidak langsung mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan untuk penentuan bulan baru. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi Saw hidup, ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan proses penghitungan bulan atau merukyat bil’ilmi, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban dimasa itu maka Nabi Saw belum menggunakan metode seperti ini.
Masalah ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu, yakni mereka pada umumnya tidak dapat menulis dan menghitung. Ini berarti jika kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut tidak ditemukan lagi, maka tidak ada keharusan melakukan rukyat dan sebagai alternatifnya adalah kebolehan melakukan hisab. Jadi, ke-ummi-an umat merupakan ‘illat dari perintah ditetapkannya rukyat. Dengan demikian, yang menjadi al-ashl adalah rukyat yang secara jelas telah ditetapkan oleh nash hadis. Kemudian obyek yang akan ditentukan hukumnya adalah status hisab, karena penetapan hisab secara eksplisit memang tidak ditegaskan oleh nash hadis tersebut. Oleh karena itu, hisab berposisi sebagai al-far’u dalam kasus ini. Sedangkan yang menjadi hukm al-ashl adalah keharusan melakukan rukyat dalam menentukan bulan baru. Lebih jauh mungkin perlu dipertegas juga bahwa ‘illat (sebab) selalu berjalan bersama ma’lul (musabab) dalam keberadaannya maupun ketiadaannya. Hal ini berarti untuk kasus kita diatas, apabila umat Islam telah keluar dari kondisinya yang ummi dan telah mampu menulis dan berhitung, maka dangan sendirinya hisab dapat diberlakukan. Disini saya juga akan mengutip dari bukunya Buya Hamka “Pandangan Hidup Muslim” terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966 halaman 142 :
“Kalau misalnya hiduplah Nabi kita Muhammad Saw dijaman kita ini, agaknya akan beliau suruhkanlah Bilal bin Rabah melakukan azan dengan memakai loadspeaker dan mikrofon. Akan beliau suruhkan agaknya Mu’az bin Djabal menyebarkan Islam kenegeri Yaman, bahkan keseluruh dunia dengan memakai radio”.
Penulis sependapat dengan almarhum Buya Hamka tersebut, bahkan mungkin Nabi Saw pun akan melakukan dakwah beliau dengan memanfaatkan email, milis, handphone, chat, telekonfrens, buku, brosur dan sebagainya sesuai bentuk-bentuk penyampaian informasi yang sudah kita kuasai dijaman sekarang. Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya “Pedoman Puasa”, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53 :
“Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab. Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah (rukyat bil fi’li) satu-satunya jalan buat memulai puasa”.
Didalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad yang bersumber kepada Ibnu Umar disebutkan bila Nabi Saw bersabda, “Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika mendung, “kadarkanlah” olehmu atasnya (Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah)”.
Imam Nawawi (1983, juz 7, hal. 190) mengatakan bila umumnya hadis-hadis tersebut diatas membagi pemahaman tentang perlunya melihat hilal (bulan sabit) bagi orang yang akan berpuasa maupun mengakhirinya (yaitu berhari raya). Adapun menyangkut bilangan bulan yang disebut didalam hadis, yakni 29 hari, ini menurutnya berlaku dalam kondisi cuaca yang baik. Sementara dalam kondisi yang tidak baik karena tidak memungkinkan melihat hilal, maka tetap saja puasanya harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari. M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku yang sama (hal. 49) menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan faqdiru atau “perkirakanlah”. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi “Faqduru lahu tsalatsina” atau “kadarkanlah untuknya 30 hari”, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab. Menurut Ibn Suraij, Muthrab Ibn Abdillah, Ibnu Qutaibah dan lain-lain sebagainya, maksud dari kata tersebut adalah mereka mengukurnya dengan suatu hitungan yang berdasar manzilah-manzilah (lintasan orbitnya). Istilah faqdiru sendiri bisa diartikan sebagai ukuran sesuatu. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata taqdir, yang merupakan derivasi dari kata kerja qaddara yang artinya menetapkan batas atau kadar tertentu. Arti seperti ini dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 23, dalam konteks penciptaan manusia, yaitu: “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”
Selaras dengan ini, penulis pada kesempatan ini ingin merujuk pada salah satu firman Allah : “Wahai masyarakat Jin dan Manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silahkan lintasi, tapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthon”. (QS AR-Rahman (55) :33)
Istilah “sulthon” bisa diterjemahkan sebagai kekuatan, dan dalam hal ini merujuk pada kekuatan akal, yaitu bagaimana memaksimalkan kemampuan akal yang ada untuk mampu menciptakan peradaban yang cerdas, berilmu pengetahuan tinggi sehingga memungkinkan untuk mengeksplorasi seluruh alam semesta ini untuk kemaslahatan hidup selaku Khalifah Tuhan dibumi. Kita maklum bila ilmu hisab atau ilmu Astronomi, merupakan salah satu masterpiece manusia yang tentu saja bisa digunakan untuk berbagai tujuan termasuk menentukan perhitungan waktu atau penanggalan sebagaimana di-isyaratkan oleh ayat-ayat yang sudah banyak kita kutipkan dibagian atas sebelum ini. Karena itulah kita akan kembali kepada konsep Iqra, konsep membaca, baca dan bacalah terus. Analisa dan teruslah menganalisa, temukanlah, manfaatkanlah semua potensi yang ada dalam diri ini. Tidak heran bila ayat ini justru yang turun pertama kepada Rasulullah Saw.
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia ciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia Yang mengajar dengan Qalam. Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
(QS AL-Alaq (96) : 1 s/d 5)
Perintah berpikir adalah perintah Allah dalam al-Qur’an, salah satunya silahkan lihat kembali akhir surah Yuunus ayat 5 : “Liqowmi ya’lamun” yang artinya, “Dia menjelaskan ayat-ayatNya bagi kaum yang mau mengetahui”. Ayat tersebut berlaku secara menyeluruh tanpa terkecuali, entah itu dalam aspek kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu.
Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan dan alat untuk itu semua adalah akal. Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin. Jika sudah begini untuk apa wahyu diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ? Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?
Menyangkut berbuka puasa pada setiap harinya, orang diberi tuntunan supaya melihat tanda tenggelamnya matahari, dan waktu imsak sehabis makan sahur orang supaya melihat terbitnya fajar sebagaimana dinyatakan dengan jelas didalam al-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat 187, “Wakuluu wa(i)syrabuu hattaa yatabayyana lakumu (a)lkhaythu (a)l-abyadhu mina (a)lkhaythi (a)l-aswadi mina (a)lfajri … dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”.
Nyatanya, dijaman kita sekarang ini hampir bisa dipastikan bila semua orang Islam telah menunaikan sholatnya tidak lagi melihat kedudukan matahari begitupun mengakhiri waktu sahurnya berdasarkan jadwal yang telah ada dan dicetak melalui brosur, surat kabar, papan pengumuman dan lain sebagainya yang semua itu merupakan hasil perhisaban. Mari bersama ini, penulis mengajak setiap diri, khususnya yang mengharamkan hisab agar melakukan introspeksi. Masihkah diri kita mengikuti tuntunan Allah dan Nabi seperti yang kita sampaikan itu ? Orang dijaman sekarang sudah lebih banyak mengikuti keputusan atau penetapan ahli hisab dimana mereka mengatur ketentuan waktu sholat, waktu berbuka dan berimsak setiap hari melalui jam, jadwal, program komputer semacam “shollu” dan sebagainya. Oleh karena itu, jika diantara kita masih banyak yang bersikeras bahwa penetapan untuk awal puasa dan awal syawal harus dengan ru’yat bil fi’li alias melihat visual bulan secara langsung, maka penulis mengusulkan hendaknya mereka dalam mengerjakan sholat yang lima waktu setiap hari atau berbuka puasa dan berimsak harus benar-benar melihat matahari dan sebagainya sebagaimana diterangkan sebelumnya sebagai hal yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Nabi. Ini agar kita tidak pincang dalam berpikir dan konsisten dengan apa yang dipermasalahkan.
Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan bulan untuk perhitungan (wa(al)sysyamsa wa(a)lqamara husbaanan). Itulah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.” (QS AL-An’am (6) :96)
Ayat diatas diperkuat oleh ayat berikut :
huwa (al)ladzii ja’ala (al)sysyamsa dhiyaa-an wa(a)lqamara nuuran waqaddarahu manaazila lita’lamuu ‘adada (al)ssiniina wa(a)lhisaaba maa khalaqa (al)laahu dzaalika illaa bi(a)lhaqqi yufashshilu (a)l-aayaati liqawmin ya’lamuun(a)
Terjemahnya : Dia-lah yang menjadikan matahari terang dan bulan bercahaya dan Dia menentukan orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Tidaklah Allah menjadikan semua itu melainkan dengan haq, Dia menjelaskan tanda-tandaNya bagi kaum yang mau mengetahui (QS Yuunus (10) : 5)
Bila kita perhatikan kedua ayat diatas, maka bisa kila lihat dengan jelas bahwa Surah al-An’am ayat 96 menggunakan lafadz “Qomar” dalam menyebutkan bulan sebagai pasangan dari matahari demikian juga halnya dengan surah Yunus ayat 5 juga menggunakan kata yang sama. Ini semua tidak bisa kita pungkiri bahwa istilah Qomar tersebut sebagaimana pernah kita jelaskan diawal Bab 3 ini lebih merujuk pada penyifatan secara phisik, yaitu bulan selaku satelit bumi dan bukan bulan dalam pengertian diluarnya. Dibuktikan pula dengan adanya kata ditentukan orbit atau manzilah dari bulan tersebut sehingga membuat kita memang harus terbakukan dengan pengertian tersebut.
Saat Allah menyatakan keduanya (yaitu matahari dan bulan, – wa(al)sysyamsa wa(a)lqamara) bisa digunakan sebagai penentu bilangan tahun dan perhitungan, disini kitapun mau atau tidak mau harus mengartikannya kepada maksud sebagai dasar bagi perhitungan kalender atau penanggalan sebagai penunjuk waktu bagi manusia. Artinya lagi dalam menentukan penanggalan (khususnya disini menyangkut penanggalan Hijriyah), maka kita harus merujuk pada perjalanan bulan mengelilingi bumi sejauh 331 derajat 5, selama 29 hari 12 jam 44,04 menit 3 detik (lihat lagi pembahasan yang sudah-sudah).
Dari arti harfiah kedua ayat ini, kita harusnya sudah bisa berkesimpulan bahwa metode hisab atau secara Astronomis justru mendapat penekanan dalam mengambil keputusan untuk penentuan waktu dalam kehidupan manusia. Sekarang kita beranjak lagi pada surah al-Baqarah yang memaparkan perintah berpuasa :
Bulan Ramadhan, yang bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir/membuktikan di bulan itu (faman syahida minkumu (al)sysyahra), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut… (QS AL-Baqarah (2) :185)
Ayat ini menggunakan istilah “syahru ramadaana” untuk merujuk kepada bulan Ramadhan, dia tidak menggunakan lafadz Hilal atau Qomar (dalam bahasa Inggris disebut Moon). Bila kita menilik lebih jauh pada surah al-Qur’an lainnya yang berbicara mengenai istilah sepadan seperti yang ada pada surah An-Nisaa ayat 92, At-Taubah ayat 36, Al-Ahqaaf ayat 15 maka diperoleh data bahwa yang dimaksudkan dari kata Syahra adalah bulan dalam makna perhitungan (dalam bahasa inggris disebut Month).
inna ‘iddata (al)sysyuhuuri ‘inda (al)laahi itsnaa ‘asyara syahran fii kitaabi (al)laahi yawma khalaqa (al)ssamaawaati wa(a)l-ardha
Terjemah : Sesungguhnya bulan disisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi (QS AT-Taubah (9) :36)
wawashshaynaa (a)l-insaana biwaalidayhi ihsaanan hamalat-hu ummuhu kurhan wawadha’at-hu kurhan wahamluhu wafishaaluhu tsalaatsuuna syahran
Terjemah : Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya sudah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya pula dengan susah payah, mengandungnya sampai menyapihnya diusia tiga puluh bulan (QS AL-Ahqaaf (46) :15)
Dengan demikian maka pengertian dari Syahra adalah sebagai hasil dari hisab yang dilakukan atas Qomar atau hilal, atau dalam bahasa sederhananya, istilah syahra merupakan penanggalan yang diperoleh dari hasil perhitungan perjalanan bulan dalam garis edarnya.
Analisa lainnya kita bawakan disini adalah contoh penggunaan kalimat-kalimat seperti Syahrullah (bulan Allah) untuk menyebut bulan Rajab, Syahr Qur’an (bulan diturunkannya al-Qur’an), Syahr al-’Ied (bulan yang akhirnya disambut dengan hari Raya ‘Ied), Syahr as-Shiyaam (bulan puasa), Syahr ar-Rahmah (bulan penuh rahmat), Syahr as-Sabri (bulan bersabar) dan sebagainya yang mana tidak dapat kita dalilkan kepada pengertian bulan sebagai satelit bumi. Ringkasnya, penggunaan kata bulan atau Syahr dicontoh kalimat-kalimat tersebut adalah bulan dalam makna perhitungan atau kalendar (Month) dan bukan bulan dalam bentuk wujud benda langit (Qomar/Moon).
Oleh karena itu maka penulis pada kesempatan kali ini ingin mengajukan usulan bagi semua pihak untuk mulai melangkah maju meninggalkan apa-apa yang sekiranya sudah bisa ditingkatkan pengetahuan dan kepastiannya melalui perkembangan ilmu dan teknologi. Khususnya mengenai konflik rukyat dan hisab, maka sewajarnya sudah kita merubah cara lama yang mengandalkan rukyat bil fi’li menuju rukyat bil ‘ilmi. Bagaimanapun jarak pandang manusia memiliki keterbatasan dan kelemahannya yang harus diakui. Kemampuan mata manusia untuk melihat benda langit terbatas hanya sampai keredupan 8 magnitudo dalam skala Astronomi. Dengan kemampuan deteksi mata manusia seperti itu, pada jarak matahari dan bulan kurang dari 7 derajat, cahaya sabit (hilal) tidak akan tampak sama sekali. Bila memperhitungkan faktor-faktor pengganggu di atmosfer bumi, maka persyaratan itu bertambah besar dan bermasalah.
Secara psikologis manusia dengan naluriahnya akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Dalam setiap komposisi bentuk, kita cenderung mengurangi subyek utama dalam daerah pandangan kita ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Penggunaan ilmu-ilmu hisab secara total dalam penentuan awal dan akhir suatu bulan pada sistem penanggalan Hijriyah terbukti merupakan metode paling akurat berkaitan dengan keteraturan dan kemudahan hasilnya. Sejumlah kekacauan yang bisa timbul dari ketidak akuratan teknik rukyat bil fi’li misalnya menyangkut ketidakjelasan penyusunan agenda atau jadwal kerja. Dimana bila kita hari ini tanggal 25 dan kita mau menentukan 8 hari kedepannya tanggal berapa persisnya haruslah menunggu sampai bulan yang sedang dijalani berakhir baru bisa menentukan tanggal berapa 8 hari dari sekarang itu. Masyarakat modern sekarang ini telah menuntut penjadwalan yang tepat dan rinci berkaitan dengan sidang-sidang maupun rapat-rapat yang akan dihadirinya berkaitan dalam aktivitasnya sehari-hari. Semua membutuhkan akurasi penyusunan agenda yang bisa diprediksi dan dikalkulasikan secara baik sehingga kerjasama dengan client dapat tercapai, kekecewaan akibat melesetnya perkiraan waktu dapat diminimalisir, perpecahan ditengah umat menyangkut kapan berpuasa dan harus berlebaran bisa dhindari serta hal-hal positip lainnya. Semua itu susah dilakukan dengan konsepsi rukyat bil fi’li.
Penulis tidak menyarankan penggabungan rukyat bil fi’li dengan rukyat bil ‘ilmi, karena sekali lagi kita sampaikan metode ini hanya akan menghasilkan kerancuan dan perpecahan. Kita sebaiknya beralih secara total pada rukyat bil’ilmi. Memang ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode hisab atau rukyat bil ‘ilmu. Mulai dari penghitungan umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, dan seterusnya . Akan tetapi semua perbedaan yang ada tersebut pada dasarnya bisa diselesaikan dengan mengembalikan konsep awal dari ijtimak atau konjungsi bulan itu sendiri dan bukan berdasar kriteria insaniah kita yang serba terbatas. Artinya perbedaan ini harusnya tunduk pada kaidah ilmu-ilmu Astronomi sebab anatara ia dan Islam harusnya memang tidak ada pemisahan. Islam sekali lagi bukan penghambat ilmu pengetahuan (termasuk Astronomi) dan Islam bukan pula bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak lagi jadi persoalan apakah usia hilal baru beberapa menit, ketinggian bulan yang harus mencapai dua derajat kapan terjadinya konjungsi dan seterusnya. Bagaimanapun, ketika terjadi pergeseran antara kedudukan matahari dan bulan sehingga terbentuk hilal (sabit) tidak mungkin bisa mundur kembali yang membuat kita harus menunggu sekian jam demi memastikannya. Apabila bulan sudah masuk pada Ijtimak atau konjungsi pada nol derajat maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru, itulah fakta kebenarannya. Pada fase sesudah konjungsi sudah pasti hilal atau sabit bulan terbentuk dan sabit bulan tersebut tidak harus dapat dilihat dengan mata telanjang, karena kemampuan mata pastilah sangat terbatas. Kita bisa melihat sabit bulan tersebut melalui ilmu pengetahuan, melalui proses hisab komputer, melalui proses pencitraan satelit dan sejenisnya. Ketinggian minimal untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang (tanpa alat bantu) adalah 4 derajat diatas ufuk (dengan catatan bila beda azimut bulan dan matahari saat itu sudah lebih dari 45 derajat tapi bila beda azimutnya 0 derajat maka perlu ketinggian minimal 10,5 derajat). Disinilah kita memulai memainkan rasionalitas terhadap paradigma berpikir kita yang selama ini cenderung kaku dan membatu.
Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).
Dalam beberapa dekade belakangan ini, dimana terjadi silang pendapat antara pemerintah selaku pihak yang berkuasa disuatu negara (dalam hal ini khususnya dinegara kesatuan Republik Indonesia) dengan sejumlah organisasi massa serta partai Islam maupun individu-individu tertentu mengenai penentuan berbulan baru yang mencakup hari pertama Ramadhan, hari pertama Idul Fitri serta hari pertama Idul Adha telah menumbuhkan cukup banyak kebingungan ditengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pejabat yang berwenang tentu saja menginginkan seluruh masyarakat yang ada dibawah otoritasnya agar mengikuti ketetapan mereka menyangkut hal-hal tersebut. Sementara kelompok yang berseberangan dengan pemerintahpun merasa bahwa mereka sebagai warga negara yang hak-haknya harus dilindungi, memiliki hak untuk menentukan sikapnya sendiri.
Sebagian ulama lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah mencoba mengajukan dalil-dalil yang dalam pandangan mereka rojih serta shahih agar umat Islam secara keseluruhan menyepakati apa-apa yang menjadi ketetapan maupun keputusan pemerintah dimana mereka berdomisili. Salah satu diantara mereka adalah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz yang bahkan berpendapat sekalipun pemerintah dimana umat Islam tersebut berada, menetapkan berpuasa sampai 31 hari lamanya . Sejumlah dasar yang diajukan mereka diantaranya
:
Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa dan jamaah umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)
“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak
berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti caraku. Dan akan
ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan
namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila
aku mendapatinya?” Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan mentaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman).
“Puasa itu pada hari (ketika) kalian semua berpuasa, Idul fitri pada hariketika kalian semua ber Idul Fitri dan Idul Adha ketika kalian semuaberidul Adha” (HR. Tirmidzi)
“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda:“Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yangtidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan janganmeninggalkan ketaatan.” (HR. Muslim dari `Auf bin Malik)
Ibnu Umar berkata: Dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa (4) :59)
Dalam hal ini, penulis memiliki pendapat yang agak berbeda yang juga memiliki dasar pemikiran dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahwa perbedaan yang dimaksudkan oleh Rasul pada hadis-hadis beliau tersebut dalam perspektif penulis bukanlah perbedaan yang menyangkut hukum-hukum keagamaan yang sudah jelas dasar serta patokannya. Tidak ada siapapun yang berhak untuk mengubah kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam urusan keagamaan. Sementara kita tahu masalah berlebaran atau beridul Adha memiliki persinggungan dengan nash-nash hukum yang sudah jelas.
Sabda Nabi Muhammad Saw :
Dari Anas, bahwa Nabi Saw melarang puasa lima hari dalam setahun, yaitu : hari raya fithri, hari raya adha dan tiga hari tasryiq. (HR. Daraquthni)
Dari Abu said dari Rasulullah Saw, bahwa ia melarang puasa dua hari, yaitu pada hari raya fithri dan hari raya adha. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Dalam satu lafal bagi Ahmad dan Bukhari dikatakan : Tidak boleh puasa pada dua hari. Sementara bagi Imam Muslim dikatakan : Tidak sah puasa pada dua hari.
Dari hadis-hadis diatas maka bisa kita pahami bahwa bila sudah masuk hari idul fithri maupun adha kita sudah dilarang untuk melakukan ibadah puasa, artinya kita harus segera menyegerakan diri untuk berlebaran. Manakala misalnya kita mengikuti suatu ketetapan yang mengharuskan berlebaran esok hari padahal kita sudah tahu hari ini harusnya kita sudah berhari raya maka kita telah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Firman Allah :
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. AL-Ahzaab (33) :36)
Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan engkau berpaling darinya padahal kamu mengetahuinya. (QS AL-Anfaal (8) : 20)
Maka apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu, hendaklah kamu mengerjakan darinya sesanggup kamu. Dan apabila aku mencegah kamu dari sesuatu maka kamu jauhilah dia. (HR. Muslim dan Nasa’I dari Abu Hurairah)
Tentu kita maklum bahwa waktu berhari raya atau berpuasa hanyalah akibat dari suatu sebab yang ada sebelumnya. Adapun penyebab perbedaan yang terjadi sehingga menimbulkan kecenderungan untuk terjadinya pelanggaran atas nash-nash yang terkait seputar hari raya akan kembali lagi pada metode penentuan berbulan baru.
Sekarang kita akan coba mempersempit masalah dengan mengabaikan perdebatan tentang hisab dan rukyat (bil fi’li) dan kita membahas tentang adanya kesaksian sejumlah orang yang melakukan pengamatan terhadap hilal secara langsung pada tempat-tempat tertentu. Pada praktek dilapangan, seringkali kesaksian-kesaksian individu tersebut ditolak oleh pihak yang berkuasa hanya karena dalam kalendar yang berlaku dan sudah terlanjur beredar dimasyarakat tertulis hari raya baru jatuh pada hari lusa dan bukan esok hari. Kita tidak akan membahas mengenai pengaruh adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap kondisi politik serta perekonomian negara, karena memang ketetapan agama harusnya dinomor satukan dari semua kepentingan yang ada.
Kitab hadis “Nailul Authar” yang berisi kumpulan hadis-hadis hukum dari Nabi Saw hasil jerih payah Asy-Syaukani dari kitab Al-muntaqa Ibnu Taimiyah memuat secara khusus masalah kesaksian atas hilal ini . Kita bisa melakukan introspeksi diri kita sendiri dari hadis-hadis tersebut, apakah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melanggar ataukah memang sudah benar dalam mengikuti ketetapan Nabi Muhammad Saw mengenai hal ini. Dari sini kita bisa pula mengoreksi tentang sikap kita yang mengaminkan atau juga melakukan pembangkangan pada keputusan pemerintah (serta ulama-ulama yang menyarankan untuk mengikutinya).
Dari Umar, ia berkata : Orang-orang pada melihat bulan, lalu aku memberitahu Rasulullah Saw bahwa akupun melihatnya. Lalu ia berpuasa dan menyuruh orang-orang supaya berpuasa. (HR. Abu Daud dan Daraquthni. Tetapi Daraquthni berkata : Marwan bin Muhammad menyendiri dengan hadis ini dari Abu Wahab, sedang dia adalah kepercayaan).
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ada seorang Badui datang ketempat Nabi Saw, lalu ia mengatakan : Sungguh aku melihat bulan. Kemudian Nabi bertanya : “Apakah engkau percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau juga percaya, bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi menyuruh Bilal : “Hai Bilal, beritahukanlah kepada manusia, supaya mereka besok berpuasa”. (HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad).
Dan Abu Daud meriwayatkan juga dari hadis Hammad bin Salamah dari Simaak dari Ikrimah secara mursal (tanpa menyebut nama sahabat), semakna dengan itu, dan ia berkata : Lalu Nabi menyuruh Bilal, kemudian Bilal menyeru pada manusia : “Hendaklah mereka sholat tarawih dan berpuasa”
Dari Rib’I bin Hirasy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi, ia berkata : Orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan, lalu datanglah dua orang Badui kemudian mereka bersumpah dihadapan Nabi Saw bahwa bulan Syawal telah nampak kemarin sore, lalu Rasulullah Saw menyuruh orang-orang agar berhari raya fithri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, sesungguhnya dia berkhutbah pada hari yang ia ragu-ragu padanya sebagai berikut : Ketahuilah, bahwa aku adalah berkawan dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan pernah bertanya kepada mereka, lalu merekapun menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut : “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihat bulan, dan beribadahlah kalian karena melihat bulan. Kemudian jika bulan itu terdinding awan maka genapkanlah tiga puluh hari. Tetapi jika ada dua saksi muslim yang melihatnya maka berpuasalah kalian dan berhari rayalah”. (HR. Ahmad dan Nasa’i, tetapi Nasa’I tidak menyebutkan kata-kata “muslim” pada teks “dua saksi”).
Dari Amir Mekkah, Al-Harits bin Hathib, ia berkata : Rasulullah Saw memerintahkan kita supaya beribadah karena melihat bulan. Tetapi jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi adil yang menyaksikan bulan tersebut, maka kita pun beribadah lantaran kesaksian dua saksi tersebut. (HR. Abu Daud dan Daraquthni, Daraquthni berkata sanadnya bersambung dan shahih).
Syarah dari kitab Nailul Authar menjelaskan bahwa dua hadis yang menyebutkan “manusia melihat bulan” menunjukkan kesaksian seseorang atas datangnya hilal Ramadhan bisa diterima. Inilah pendapatnya Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal serta Imam Syafe’I dalam salah satu dari dua pendapatnya. Imam Nawawi sendiri berkata : “Itulah pendapat yang lebih benar.” Akan halnya pendapat dari Imam Malik serta sejumlah Imam sunan lainnya bahwa kesaksian seseorang tidak dapat diterima kecuali dua orang adalah mengandung pengertian tidak diterimanya seorang saksi karena semata-mata paham dari apa yang tersirat, sedang yang tersurat dalam hadis tersebut adalah diterimanya seorang saksi.
Sekali lagi bila kita mengabaikan perselisihan tentang jumlah satu atau dua orang saksi yang melihat hilal dimalam dua puluh sembilan, maka adanya kesaksian untuk itu secara nash keagamaan sudah memenuhi syarat untuk menentukan awal bulan yang baru. Bila kemudian pemerintah mengabaikan kesaksian tersebut dan bersikukuh dengan pendapatnya bahwa umat baru boleh berhari raya pada lusa harinya, berarti pemerintah sudah berseberangan dengan nash-nash hukum keagamaan. Sebagai seorang muslim, maka kita juga sudah memiliki tuntunan dari Rasul yang sebelumnya dijadikan hujjah dari kelompok pertama, “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)
Maksiat yang kita coba kaitkan disini adalah mengajak kepada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk yang dapat dibenarkan jika hal itu berupa perbuatan maksiat terhadap al-Khaliq” . Persatuan umat bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nash-nash agama yang telah pasti kecuali bila memang untuk melakukannya dibatasi oleh situasi dan kondisi (misalnya seperti dalam masa Orde Baru). Adapun makna dari Ulil Amri pada surah an-Nisa ayat 59, memang oleh mayoritas ulama dinyatakan sebagai pemerintah yang berkuasa. Ahli Mufassir terkemuka bernama Imam Fakhruddin Razi yang menulis kitab “Mafatihul Gaib” (w. 1228 M) mengartikan Ulil Amri sebagai Ahli Ijmak (orang-orang yang kesepakatannya menjadi hukum yang harus ditaati). Imam Naisaburi serta Muhammad Abduh memahaminya sebagai Ahli Halli wal’aqdi (orang-orang yang mempunyai hak kekuasaan untuk membuka dan mengikat yang setiap keputusannya mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat) .
Apapun defenisi yang diberikan untuk istilah Ulil Amri tersebut, penulis disini ingin menekankan bila cara kerja Ulil Amri yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59 harusnya juga mengacu pada lanjutan ayat tersebut, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Sabda Nabi Saw pula, “Hendaklah kamu mengikuti dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dimasa setelah aku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Jadi kita tetap punya parameter yang tegas bahwa kepatuhan pada penguasa adalah selama mereka juga mengembalikan pengaturan hak rakyatnya yang muslim kepada tuntunan Allah dan Rasul. Al-Qur’an disisi lain memberikan petunjuk bila jumlah orang tidaklah menentukan nilai kebenaran yang mereka serukan (suara mayoritas tidak selalu berarti suara kebenaran) :
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am (6) :116)
Adapun makna Al-Jama’ah dimana menurut Imam Ahmad bin Hanbal dengan perkataannya “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah”, secara lughat berarti kumpulan, himpunan atau persatuan. Salah seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud diriwayatkan pernah berkata kepada Amr bin Maimun : “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”. Dikesempatan lain, beliau juga berkata, “Jama’ah itu adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan pada Allah Azza Wajalla”
Imam Alipun diriwayatkan berkata, “Jama’ah itu, demi Allah, adalah kumpulan orang-orang ahli kebenaran walaupun mereka itu sedikit” .
Jadi al-Jama’ah itu bisa dimaknai sebagai kebersatuan dengan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini adalah kumpulan satu atau lebih orang yang taat pada Allah.
Sesuai firman Allah :
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu pada satu hal, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri”. (QS. Saba (34) :46)
Nabi Muhammad Saw disinyalir telah bersabda dalam satu hadis dengan status dhaif (lemah), “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul diatas kesesatan. Maka dari itu bila kamu melihat perselisihan maka hendaklah kamu Sawadul-A’zham”. (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik, kedhaifan hadis ini disebabkan salah satu perawinya bernama Hazim bin ‘Atha yang dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sebagaimana kata Imam Al-Iraqy). Istilah Sawadul-A’zham pada hadis diatas sering dinisbatkan pada al-Jama’ah, sebagaimana ini dilakukan oleh ahli hadis dan fiqih terkenal bernama Imam Sofyan ats-Tsauri (w. 161 H) serta Imam Ishaq bin Rahawaih. Penafsiran tersebut tidak menyalahi lahiriah hadis tersebut yang intinya adalah untuk selalu memegang pihak yang benar, walaupun jumlahnya sedikit.
Originally posted by: Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.com
Excel Fideli
Monday, January 18, 2010
Rahasia di balik Materi
Kesalahan dasar mereka yang menolak Allah juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak benar-benar menolak keberadaan Allah, tetapi mempunyai kesan yang salah tentangNya. Mereka tidak menolak tanda-tanda "penciptaan" yang terwujud di mana-mana, namun memiliki keyakinan-keyakinan takhayul tentang "tempat" Allah. Kebanyakan mereka berpikir bahwa Allah ada di atas, di "langit." Mereka secara tersirat dan keliru membayangkan bahwa Allah ada di balik planet yang sangat jauh dan mencampuri "urusan duniawi" sesekali, atau mungkin tidak sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Ia menciptakan alam semesta dan lalu membiarkannya bergulir sendiri, membiarkan manusia menentukan nasibnya sendiri.
Konsep "sifat materi" adalah satu konsep yang berperan menyebabkan perubahan pandangan seseorang atas kehidupan, dan malah keseluruhan kehidupannya, sekali intisarinya diketahui. Pokok ini terkait langsung dengan makna hidup Anda, harapan Anda pada masa depan, cita-cita Anda, nafsu-nafsu, hasrat-hasrat, rencana-rencana, konsep-konsep yang Anda anut, dan benda-benda materi yang Anda miliki.
Pokok masalah bab ini, "sifat materi," bukanlah suatu pokok yang muncul kali pertamanya saat ini. Sepanjang sejarah manusia, banyak pemikir dan ilmuwan telah membahas konsep ini. Semenjak awal, orang-orang telah terpisah menjadi dua kelompok dalam persoalan ini; satu kelompok, yang dikenal sebagai materialis, mendasarkan filsafat dan kehidupan mereka pada keberadaan hakiki materi dan hidup dengan memperdaya diri. Kelompok yang lain berbuat tulus, dan karena tak cemas untuk berpikir lebih keras, mencurahkan hidup demi memahami intisari dari "benda-benda" kepada mana mereka terpapar dan makna mendalam yang terletak di baliknya. Akan tetapi, kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman kita akhirnya menyudahi pertentangan ini dengan membuktikan tanpa terbantahkan fakta yang terbukti dengan sendirinya bahwa materi tak memiliki keberadaan yang hakiki.
Pertanyaan yang Telah Lama Dibahas: Apakah Sifat Sebenarnya Materi?
Seseorang yang sungguh-sungguh dan bijaksana merenungi alam semesta yang dihuninya, galaksi-galaksi, planet-planet, keseimbangan-keseimbangan di dalamnya, daya tarik-menarik dalam struktur atom, keteraturan yang ditemuinya di segenap pelosok alam, tak terhitung spesies di sekelilingnya, cara spesies-spesies itu hidup, bakat-bakatnya yang mengagumkan, dan akhirnya, tubuhnya sendiri, akan seketika menyadari bahwa ada sesuatu yang luar biasa tentang semua hal itu. Ia akan dengan mudah memahami bahwa tatanan sempurna dan kepelikan-kepelikan di sekitar dirinya tak mungkin terwujud dengan sendirinya, namun pasti memiliki seorang Pencipta. Nyatanya, Darwinisme dan filsafat materialis yang menolak penciptaan adalah kekeliruan-kekeliruan terbesar sebagaimana telah kami uraikan sepanjang buku ini.
Lalu, oleh siapakah semua hal ini diciptakan?
Jelaslah bahwa "fakta penciptaan," yang terbukti dengan sendirinya pada setiap lingkungan di alam semesta, tak mungkin suatu hasil alam semesta itu sendiri. Misalnya, seekor merak, dengan warna dan rancangannya yang mengisyaratkan seni yang tiada tara, tak bisa menciptakan dirinya sendiri. Keseimbangan-keseimbangan amat halus di alam semesta tak mungkin menciptakan atau menyusun dirinya sendiri. Baik tumbuhan, manusia, bakteri, eritrosit (sel darah merah), maupun kupu-kupu, tak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Lebih lagi, peluang bahwa semua wujud ini mungkin muncul "secara kebetulan" bahkan tak terbayangkan.
Nyatalah bahwa segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tak satu pun dari benda-benda yang kita lihat dapat menjadi "pencipta." Sang Pencipta berbeda dengan dan mengungguli semua yang kita lihat dengan mata kita. Ia tak terlihat, namun segala sesuatu yang telah Ia ciptakan mengungkapkan keberadaan dan sifat-sifatNya.
Inilah perihal terhadap mana mereka yang menolak keberadaan Allah berkeberatan. Orang-orang seperti mereka telah dilatih agar tak memercayai keberadaanNya kecuali melihatNya dengan mata sendiri. Menurut pandangan mereka, ada setumpuk materi di seantero alam semesta yang menyebar hingga keabadian, dan Allah tidak berada di mana pun di dalam tumpukan materi itu. Bahkan jika berjalan ribuan tahun cahaya, mereka pikir mereka tak akan menemukan Allah. Inilah mengapa mereka menolak keberadaanNya. Oleh karena itu, orang-orang ini, yang mengabaikan fakta "penciptaan," terpaksa menolak kebenaran "penciptaan" yang terwujud di seantero alam dan mencoba membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk-makhluk hidup di dalamnya tidak pernah diciptakan. Akan tetapi, mustahil bagi mereka melakukannya, sebab setiap sudut alam semesta dibanjiri petunjuk adanya Allah.
Rangsangan-rangsangan dari suatu benda diubah menjadi isyarat-isyarat listrik dan menyebabkan suatu pengaruh di dalam otak. Ketika "melihat," kita sebenarnya memandang pengaruh isyarat listrik ini di benak kita. Apa pun yang kita lihat, dengar, ketahui, kenal, atau terbiasa di dunia ini di sepanjang hidup kita semata-mata terdiri dari isyarat-isyarat listrik yang dihantarkan organ indera kita ke otak.
Kesalahan dasar mereka yang menolak Allah juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak benar-benar menolak keberadaan Allah, tetapi mempunyai kesan yang salah tentangNya. Mereka tidak menolak tanda-tanda "penciptaan" yang terwujud di mana-mana, namun memiliki keyakinan-keyakinan takhayul tentang "tempat" Allah. Kebanyakan mereka berpikir bahwa Allah ada di atas, di "langit." Mereka secara tersirat dan keliru membayangkan bahwa Allah ada di balik planet yang sangat jauh dan mencampuri "urusan duniawi" sesekali, atau mungkin tidak sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Ia menciptakan alam semesta dan lalu membiarkannya bergulir sendiri, membiarkan manusia menentukan nasibnya sendiri.
Sementara yang lain telah mendengar fakta yang dinyatakan di dalam Al Qur’an bahwa Allah ada "di mana-mana," namun tak mampu menghayati makna sebenarnya fakta ini. Menurut pemikiran menyimpang di bawah sadar mereka, mereka berpikir bahwa Allah melingkupi segala sesuatu—bak gelombang radio atau gas yang tak nampak dan tak teraba.
Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan-keyakinan lain yang tak pasti menyangkut "tempat" Allah (dan mungkin karena itu, menolak keberadaanNya) berlandaskan pada kekeliruan serupa. Mereka berprasangka tanpa alasan dan bersalah karena berpendapat keliru tentang Allah.
Prasangka Apakah Itu?
Prasangka itu adalah tentang alam dan tabiat materi. Manusia begitu terbiasa pada anggapannya sendiri tentang keberadaan materi sehingga tidak pernah memikirkan apakah materi ada atau tidak, atau apakah materi ini sekadar bayang-bayang. Ilmu pengetahuan mutakhir menghancurkan prasangka ini dan menyingkapkan suatu kenyataan yang sangat penting dan mengilhami. Pada halaman-halaman berikut, kami akan menjelaskan kenyataan agung yang ditunjukkan Al Qur’an ini.
Kita Hidup di Alam Semesta yang Disajikan oleh Indera Kita
Menurut Albert Camus, Anda bisa memahami dan menentukan kejadian-kejadian lewat ilmu pengetahuan, namun tak bisa memahami alam semesta. Di sini ada pohon, Anda rasakan kekerasannya; di sini air, Anda mencicipnya. Di sini angin, yang menyejukkan Anda. Anda harus puas dengan semua itu. 397
Semua informasi yang kita miliki tentang keniscayaan dunia tempat kita hidup disampaikan oleh panca indera kita. Dunia yang kita kenal terbangun dari apa yang mata kita lihat, tangan kita rasakan, hidung kita cium, lidah kita cicipi, dan telinga kita dengar. Tak pernah kita berpikir bahwa "dunia luar" mungkin sesuatu yang lain dari yang disajikan oleh indera-indera kita, sebab kita telah bergantung sepenuhnya kepada segenap indera itu sejak lahir.
Penelitian mutakhir di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjuk ke fakta yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan besar tentang indera kita dan dunia yang kita tangkap dengannya.
Sesuai dengan temuan-temuan ilmiah, yang kita tangkap sebagai "dunia luar" hanyalah hasil dari otak yang terangsang oleh isyarat-isyarat listrik yang dikirimkan oleh organ-organ indera kita. Warna-warna kaya nuansa yang Anda tangkap dengan indera penglihatan, kesan keras atau lunak yang disampaikan indera peraba, rasa yang Anda alami di lidah, aneka nada dan suara yang Anda dengar dengan telinga, bebauan yang Anda cium, pekerjaan Anda, rumah Anda, semua harta Anda, kalimat-kalimat di dalam buku ini, dan terlebih-lebih, ibu Anda, ayah Anda, keluarga Anda, seluruh dunia yang Anda lihat, kenal, terbiasa dengannya sepanjang hidup, terdiri semata-mata dari isyarat-isyarat listrik yang diteruskan oleh organ-organ indera Anda ke otak. Meskipun tampaknya sukar pada analisis pertama, hal ini sebuah fakta ilmiah. Pandangan filsuf-filsuf terkemuka seperti Bertrand Russel dan L. Witteinstein tentang masalah ini adalah sebagai berikut:
Misalnya, apakah lemon benar-benar ada atau tidak dan bagaimanakah lemon menjadi ada tak dapat dipertanyakan atau diselidiki. Sebutir lemon terdiri semata-mata dari rasa yang dicicipi lidah, bau yang dicium hidung, warna dan bentuk yang dilihat mata; dan hanya ciri-ciri inilah yang dapat dijadikan bahan pemeriksaan dan pengkajian. Ilmu pengetahuan tak akan pernah mengetahui dunia fisik. 398
Frederick Vester menjelaskan pencapaian ilmu pengetahuan pada masalah ini:
Pernyataan ilmuwan-ilmuwan tertentu bahwa "manusia itu sebuah citra, segala yang dialaminya fana dan memperdaya, dan alam semesta ini sebuah bayangan," tampaknya dibuktikan oleh ilmu pengetahuan zaman kita. 399
Pemikiran seorang filsuf terkenal George Berkeley tentang hal ini dapat dirangkum sebagai berikut:
Kita memercayai keberadaan benda-benda karena kita melihat dan menyentuhnya, dan semua itu dipantulkan kepada kita oleh kesan-kesan kita. Akan tetapi, kesan-kesan kita sekadar gagasan-gagasan di benak kita.. Oleh karena itu, benda-benda yang kita kenali dengan indera-indera kita tak lebih dari sebuah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak di mana-mana melainkan di benak kita… karena semua ini hanya terjadi di benak, berarti kita terpukau oleh tipuan-tipuan ketika membayangkan bahwa alam semesta dan benda-benda mempunyai keberadaan di luar benak kita. Maka, tak satu pun benda di sekeliling kita memiliki keberadaan di luar benak kita. 400
Untuk menjernihkan masalah ini, renungkanlah indera penglihatan kita, yang menyediakan bagi kita informasi terbanyak tentang dunia luar.
Bagaimanakah Organ-Organ Indera Kita Bekerja?
Sedikit orang berpikir mendalam tentang bagaimana tindakan melihat berlangsung. Setiap orang menjawab pertanyaan "Bagaimanakah kita melihat?" dengan berkata "tentulah dengan mata." Akan tetapi, ketika kita mempelajari penjelasan teknis proses penglihatan, tampaknya tidak demikian yang terjadi. Tindakan melihat disadari bertahap. Gugus cahaya (foton) bergerak dari benda ke mata dan melewati lensa di bagian depan mata, lalu dibiaskan dan jatuh terbalik di retina di bagian belakang mata. Di sini, cahaya yang menerobos ini diubah menjadi isyarat-isyarat listrik yang diteruskan oleh neuron-neuron ke bintik kecil yang disebut pusat penglihatan di bagian belakang otak. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di bintik kecil di bagian belakang otak ini, yang sangat gelap dan kedap cahaya.
Kini, cobalah tinjau kembali proses yang tampak biasa dan sederhana ini. Ketika mengatakan, "kita melihat," kita sesungguhnya melihat pengaruh-pengaruh rangsangan yang mencapai mata dan disimpulkan di otak kita, setelah diubah menjadi isyarat-isyarat listrik. Yakni, ketika mengatakan, "kita melihat," sebenarnya kita mengamati satu himpunan isyarat listrik di otak. Oleh karena itu, melihat bukanlah proses yang berakhir di mata; mata hanya sebuah organ indera yang berperan sebagai sarana proses melihat.
Semua citra yang kita pandang di dalam hidup kita terbentuk di pusat penglihatan kita, yang seukuran sebiji kacang dan membentuk beberapa kubik saja isi otak kita. Baik buku yang kini sedang Anda baca, dan layar komputer Anda, dan bentang alam tak berbatas yang Anda lihat ketika menatap cakrawala, dan laut yang tak bertepi, dan sekumpulan orang yang berlomba lari maraton, masuk ke ruang kecil ini. Hal lain yang patut diingat adalah, seperti yang telah kami catat, otak itu kedap cahaya; bagian dalamnya gelap gulita. Otak sendiri tak bersentuhan dengan cahaya. Tempat yang disebut pusat penglihatan adalah sebuah tempat yang gelap gulita, cahaya tak pernah mencapainya, begitu gelap sehingga mungkin Anda sendiri belum pernah berada di tempat seperti ini. Akan tetapi, Anda memirsa dunia benderang dan berwarna-warni dalam kegelap-gulitaan ini. Alam aneka warna, bentang alam yang menyilaukan, semua nuansa hijau, warna-warni buah-buahan, pola-pola bunga-bungaan, terangnya matahari, semua orang di jalan yang ramai, kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang dengan cepat, ratusan pakaian di pusat-pusat perbelanjaan, dan yang lain-lainnya, semuanya citra-citra yang terbentuk di tempat yang gelap gulita ini. Bahkan pembentukan warna di kegelapan ini masih belum diketahui. Klaus Budzinski mengulas:
... Para ahli warna (kromatis) tak bisa menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah jaringan di mata yang menangkap cahaya maupun warna menghantarkan informasi ini ke otak melalui syaraf penglihatan dan apakah macam rangsangan fisik-fisiologis yang diciptakannya di otak. 401
Kita bisa menjelaskan keadaan menarik ini lewat sebuah contoh. Anggaplah di depan kita ada lilin yang sedang menyala. Kita dapat duduk di seberang lilin ini dan melihatnya dengan berjarak. Akan tetapi, selama itu, otak kita tak pernah bersentuhan langsung dengan cahaya asli dari lilin itu. Bahkan ketika kita merasakan panas dan cahaya lilin itu, bagian dalam otak kita gelap-gulita dan suhunya tak pernah berubah. Kita memirsa dunia terang berwarna-warni di dalam otak kita yang gelap.
Hal yang sama terjadi pada cahaya matahari. Mata Anda silau oleh cahaya matahari atau kulit Anda merasakan panasnya yang membakar tak mengubah kenyataan bahwa itu semua hanya kesan dan pusat penglihatan di otak Anda gelap-gulita.
R.L. Gregory memberikan penjelasan berikut tentang segi-segi yang menakjubkan dari melihat—sesuatu yang kita terima tanpa bertanya:
Kita demikian akrab dengan penglihatan, sampai-sampai memerlukan lompatan pembayangan untuk menyadari bahwa ada masalah-masalah yang harus dipecahkan. Namun, pikirkanlah hal ini. Kita diberi citra-citra kecil yang terbalik dan kacau di mata, dan kita melihat benda-benda utuh terpisah-pisah di dalam ruangan sekeliling kita. Dari pola-pola tiruan di retina, kita mengesani dunia benda-benda, dan ini tak kurang dari sebuah keajaiban.402
Keadaan yang sama terjadi pada semua indera kita. Suara, sentuhan, rasa, dan bau semuanya dikesani sebagai isyarat-isyarat listrik di otak.
Indera pendengaran bekerja dengan cara yang serupa dengan penglihatan. Telinga luar menangkap suara dengan daun telinga dan mengarahkannya ke telinga tengah. Telinga tengah meneruskan getaran-getaran suara ke telinga dalam dan memperkuatnya. Telinga dalam menerjemahkan getaran-getaran menjadi isyarat-isyarat listrik, yang lalu dikirimkan ke otak. Sama seperti mata, proses mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran di otak.
Apa yang benar untuk mata juga benar untuk telinga, yaitu, otak kedap suara sebagaimana kedap cahaya. Oleh karena itu, betapa pun bisingnya di luar, bagian dalam otak sunyi-senyap. Walau demikian, bahkan suara terhalus sekalipun dikesani di otak. Proses ini demikian cermatnya sehingga telinga orang yang sehat mendengar apa pun tanpa derau atau gangguan atmosferik. Di dalam otak Anda, yang kedap suara dan sunyi-senyap, Anda mendengar simfoni-simfoni sebuah orkestra, mendengar semua kebisingan sebuah tempat yang ramai, dan mengesani semua suara di dalam kisaran frekuensi yang lebar, dari kerisik daun hingga raung pesawat jet. Akan tetapi, jika pada saat itu tingkat suara di dalam otak Anda diukur dengan sebuah peranti yang peka, kesunyi-senyapan akan terlihat meliputinya.
Kesan kita tentang bau bekerja dengan cara serupa. Molekul-molekul mudah-menguap dipancarkan oleh benda-benda seperti vanili atau bunga mawar mencapai dan berinteraksi dengan reseptor-reseptor di rambut-rambut halus pada daerah epitel hidung. Interaksi ini diteruskan ke otak sebagai isyarat-isyarat listrik dan dikesani sebagai bau. Semua yang kita cium, yang menyenangkan atau pun tidak, tak lain hanyalah kesan otak terhadap interaksi molekul-molekul mudah-menguap setelah diubah menjadi isyarat-isyarat listrik. Anda mengesani wangi parfum, sekuntum bunga, makanan yang Anda sukai, laut, atau bebauan lain yang Anda sukai atau tidak, di dalam otak Anda. Molekul-molekul itu sendiri tak pernah mencapai otak. Sama seperti suara dan pemandangan, yang sampai ke otak ketika Anda mengesani sesiratan bau adalah sekadar sekumpulan isyarat listrik. Dengan kata lain, semua bau yang telah Anda kenal—sejak Anda dilahirkan—yang dimiliki benda-benda luar adalah sekadar isyarat-isyarat listrik yang Anda alami lewat organ-organ indera Anda. Berkeley juga mengatakan:
Pada awalnya, diyakini bahwa warna, bau, dan sebagainya, "benar-benar ada," tetapi kemudian, pandangan seperti itu ditinggalkan, dan agaknya semua itu hanya ada bergantung pada penginderaan kita.403
Serupa itu, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Reseptor-reseptor ini terkait dengan empat rasa: asin, manis, asam dan pahit. Reseptor-reseptor rasa kita mengubah kesan-kesan ini menjadi isyarat-isyarat listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan meneruskannya ke otak. Isyarat-isyarat ini dikesani sebagai rasa oleh otak. Rasa yang Anda alami ketika makan coklat atau buah yang Anda sukai merupakan tafsiran isyarat listrik oleh otak. Anda tak pernah dapat menyentuh benda di dunia luar; Anda tak pernah dapat melihat, mencium, atau mencicipi coklat. Misalnya, jika syaraf-syaraf perasa yang berjalan ke otak dipotong, rasa benda-benda yang Anda makan tak akan mencapai otak; Anda akan sepenuhnya kehilangan indera pencicip.
Di sini, kita menemui fakta lain:
Kita tak pernah dapat yakin bahwa yang kita alami ketika mencicipi rasa makanan dan yang dialami orang lain ketika mencicipi makanan yang sama, atau yang kita kesani ketika mendengar suara dan yang dikesani orang lain ketika mendengar suara yang sama, adalah sama. Lincoln Barnett mengatakan bahwa tak seorang pun mengetahui apakah orang lain melihat warna merah atau mendengar nada C dengan cara yang sama seperti dirinya.404
Kita hanya tahu sebanyak yang disampaikan organ indera kita kepada kita. Mustahil bagi kita menggapai kenyataan fisik di luar diri kita secara langsung. Lagi-lagi otak kitalah yang menafsirkannya. Kita tak pernah dapat meraih sumbernya. Oleh karena itu, bahkan ketika kita berbicara suatu hal yang sama, otak orang lain mungkin mengeaninya sebagai sesuatu yang lain. Alasannya adalah bahwa apa yang dikesani bergantung pada yang mengesani.
Penalaran yang sama juga benar bagi indera peraba kita. Ketika menyentuh sebuah benda, semua informasi yang akan membantu kita mengenali dunia luar dan benda-benda di dalamnya diteruskan ke otak oleh syaraf-syaraf indera di kulit. Kesan sentuhan terbentuk di dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat kita mengesani sentuhan bukan di ujung-ujung jari, atau di kulit, namun di pusat pengesan sentuhan di dalam otak kita. Karena tafsiran otak atas rangsangan listrik yang berasal dari benda-benda, kita mengalami benda-benda itu secara berbeda, misalnya, mungkin keras atau lunak, panas atau dingin. Kita mendapatkan semua rincian yang membantu kita mengenali sebuah benda dari rangsangan-rangsangan ini. Sehubungan dengan hal ini, seorang filsuf terkenal Bertrand Russel mengulas:
Mengenai kesan sentuhan ketika kita menekan meja dengan jari-jari, itu sebuah gangguan listrik pada elektron dan proton di ujung-ujung jari kita, yang dihasilkan, menurut fisika mutakhir, karena berdekatan dengan elektron dan proton pada meja. Jika gangguan yang sama pada ujung-ujung jari kita muncul dengan cara yang lain, kita akan memiliki rasa-rasa yang sama, sekalipun tidak ada mejanya. 405
Bahwa dunia luar bisa dikenali hanya melalui indera adalah sebuah fakta ilmiah. Di dalam bukunya, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Karya Tulis Tentang Azas-Azas Pengetahuan Manusia), George Berkeley mengulas sebagai berikut:
Dengan penglihatan, saya memiliki gagasan tentang cahaya dan warna, dengan beberapa derajat terang dan ragamnya. Dengan sentuhan, saya mengesani keras dan lembut, panas dan dingin, gerakan dan kelembaman. ..Penciuman memasok saya dengan berbagai bau; lidah dengan rasa; dan pendengaran menyampaikan suara. …Dan karena beberapa kesan teramati bersama-sama, kesemuanya ditandai dengan satu nama, dan dengan demikian dikenal sebagai satu benda. Maka, misalnya, warna, rasa, bau, bentuk, dan susunan tertentu yang teramati bersama, dipandang sebagai satu benda tersendiri, yang ditandai dengan nama apel; kumpulan-kumpulan gagasan lain membentuk sebutir batu, sebatang pohon, sebuah buku, dan benda-benda lain yang dapat dikesani... 406
Oleh karena itu, dengan mengolah data di pusat penglihatan, suara, bau, rasa, dan sentuhan, otak kita, seumur kita hidup, tidak menyentuh "sumber" materi yang ada di luar kita melainkan salinannya yang terbentuk di dalam otak kita. Di sinilah kita tersesatkan dengan menganggap salinan-salinan ini keadaan-keadaan materi nyata di luar kita. Akan tetapi, sebagaimana terlihat sepanjang buku ini, masih ada pemikir dan ilmuwan yang tidak tersesatkan oleh kekeliruan gagasan seperti itu, dan yang telah menyadari fakta ini.
Bahkan Ali Demirsoy, salah seorang materialis Turki paling masyhur, juga mengakui kebenaran ini:
Nyatanya, di alam semesta, tidak ada cahaya sebagaimana kita melihatnya, maupun suara sebagaimana kita mendengarnya, maupun panas sebagaimana kita merasakannya. Organ-organ indera menyesatkan kita di antara dunia luar dan otak dan memunculkan di dalam otak tafsiran-tafsiran yang tak berkaitan dengan kenyataan. 407
Apakah Kita Menjalani Seluruh Hidup di dalam Otak?
Dari fakta-fakta fisik yang diuraikan sejauh ini, kita bisa menyimpulkan yang berikut ini. Semua yang kita lihat, sentuh, dengar, dan rasakan sebagai "materi," "dunia," atau "alam semesta" hanyalah isyarat-isyarat listrik yang terjadi di dalam otak kita. Oleh karena itu, seseorang yang minum air jeruk tak menghadapi minumun yang sebenarnya, melainkan hanya kesannya di otak. Benda yang diyakini oleh orang-orang yang menyaksikan sebagai "minuman" sebenarnya mencakup kumpulan kesan listrik dari warna jingga, rasa manis, dan rasa cair jus jeruk di otak. Keadaan ini tak berbeda dengan ketika kita makan coklat; data listrik yang terkait dengan bentuk, rasa, bau, dan kekerasan coklat dikesani di otak. Jika syaraf-syaraf penglihatan yang berjalan ke otak tiba-tiba terputus, citra coklat juga mendadak hilang. Terputusnya syaraf yang berjalan dari indera-indera pada hidung ke otak akan mematikan sepenuhnya indera penciuman.
Ambil mudahnya, pohon yang Anda lihat, benda-benda yang Anda cium, coklat yag Anda cicipi, dan jus jeruk yang Anda minum tak lebih dari tafsiran otak atas isyarat-isyarat listrik.
Hal lain yang perlu dipikirkan, yang dapat memperdaya, adalah kesan jarak. Misalnya, jarak antara Anda dan buku ini hanyalah suatu perasaan atas ruang yang terbentuk di dalam otak Anda. Benda-benda yang tampak jauh dari sudut pandang manusia juga ada hanya di dalam otak. Misalnya, seseorang yang memandangi bintang-gemintang di langit menyangka bahwa semua itu berjarak jutaan tahun cahaya darinya. Namun, yang ia "lihat" sebenarnya bintang-bintang di dalam dirinya, pada pusat penglihatannya. Selama penerbangan, orang melihat dari sebuah pesawat ke kota di bawah dan berpikir bahwa kota itu berjarak beberapa kilometer darinya. Akan tetapi, keseluruhan panjang dan lebar kota beserta segenap orang-orang yang menghuninya itu berada di dalam otaknya.
Kini, semua data ilmiah membuktikan bahwa citra yang kita kesani terbentuk di dalam otak kita.
Masih satu lagi faktor yang menyesatkan, namun sangat penting. Ketika Anda membaca kalimat-kalimat ini, sebenarnya Anda tak berada di ruangan yang Anda sangka Anda di dalam ruangan; sebaliknya, ruangan itu ada di dalam Anda. Karena melihat tubuh Anda, Anda berpikir bahwa Anda ada di dalamnya. Akan tetapi, Anda harus ingat bahwa tubuh Anda juga sebuah citra yang terbentuk di dalam otak Anda. Bertrand Russel menyatakan yang berikut tentang hal ini:
Yang bisa kita katakan, atas dasar fisiknya sendiri, adalah bahwa yang sampai kini kita sebut tubuh kita sebenarnya sebuah bangun ilmiah terinci yang tak berkaitan dengan kenyataan fisik apa pun.408
Kebenarannya sangat jelas. Jika kita bisa merasakan dunia luar hanya melalui organ-organ indera kita, maka tidak akan ada alasan yang taat azas bagi kita untuk menganggap tubuh kita terpisah dari dunia luar, yaitu, mengakui bahwa tubuh kita memiliki keberadaan tersendiri.
Tubuh kita juga disajikan kepada kita oleh rangsangan listrik yang mencapai otak. Rangsangan ini, sama seperti yang lain, diubah menjadi kesan atau rasa tertentu di dalam otak kita. Misalnya, rasa sentuhan terjadi ketika kita menyentuh tubuh dengan tangan, rasa berat disebabkan oleh gaya gravitasi, rasa melihat disebabkan oleh berkas-berkas cahaya yang terpantul dari tubuh kita, dst… semua ini dikaji sebagai suatu "kumpulan rasa" oleh otak, dan kita "merasakan" tubuh kita. Sebagaimana diungkapkan oleh fakta ilmiah ini, selama hidup, kita tak terpapar tubuh kita yang asli, melainkan rangsangan listrik yang
terkait dengan tubuh kita yang mencapai otak. Rangsangan ini dikenali sebagai "tubuh kita" menurut pengesanan kita
Hal yang sama juga benar bagi semua pengesanan Anda lainnya. Misalnya, ketika Anda pikir Anda mendengar suara televisi di ruang sebelah, sebenarnya Anda mengalami suara itu di dalam otak Anda. Anda tidak dapat membuktikan baik apakah sebuah ruang ada di sebelah ruang Anda, maupun apakah suara itu berasal dari televisi di ruangan itu. Baik suara yang Anda pikir datang dari jarak beberapa meter dan percakapan seseorang di samping Anda dikenali di pusat pendengaran di dalam otak Anda yang hanya beberapa sentimeter persegi ukurannya. Di luar pusat kesan ini, tidak ada konsep seperti kanan, kiri, depan, atau belakang. Jadi, suara tidak mendatangi Anda dari kanan, dari kiri, atau dari udara, tidak ada arah dari mana suara datang.
Demikian juga bebauan yang Anda kesani, tak satu pun mencapai Anda dari sebuah jarak yang jauh. Anda menganggap bahwa pengaruh-pengaruh akhir yang terbentuk di pusat penciuman Anda adalah bau benda-benda di dunia luar. Akan tetapi, sama seperti citra sekuntum mawar di pusat penglihatan Anda, wangi mawar itu juga ada di pusat penciuman; tidak ada sekuntum mawar maupun suatu bau yang terkait dengannya di dunia luar.
Fakta-fakta yang sama juga berlaku untuk panas. Salah seorang filsuf terkemuka pada zamannya, Geroge Berkeley, menjelaskan dengan contoh berikut ini bahwa kesan-kesan seperti dingin dan panas tak bisa dinilai di luar benak:
Anggap saat ini satu tangan Anda panas, dan satunya lagi dingin, dan keduanya dimasukkan berbarengan ke dalam bejana air yang sama, yang bersuhu sedang; tidakkah air terasa dingin bagi tangan yang satu, dan hangat bagi yang lain?409
Berkeley benar dalam analisisnya. Jika panas atau dingin ada pada materi itu sendiri, kedua tangan akan merasakan hal yang sama.
"Dunia luar" yang disajikan kepada kita oleh kesan-kesan kita semata-mata sekumpulan isyarat listrik yang mencapai otak kita. Sepanjang hidup, otak kita mengolah dan menafsirkan isyarat-isyarat ini dan kita hidup tanpa menyadari bahwa kita diperdaya dengan menganggap bahwa semua ini versi asli benda-benda yang ada di "dunia luar." Kita disesatkan karena kita tak pernah dapat mencapai benda-benda ini lewat indera-indera kita. Hal ini benar-benar penting.
Lebih-lebih, otak kita lagi-lagi menafsirkan dan menetapkan makna bagi isyarat-isyarat yang kita anggap "dunia luar." Misalnya, mari kita renungi indera pendengaran. Otak kita mengubah gelombang-gelombang suara di "dunia luar" menjadi suatu irama. Dengan kata lain, musik juga sebuah kesan yang tercipta di dalam otak Anda. Dengan cara yang sama, ketika melihat warna-warna, yang mencapai mata kita cuma sekumpulan isyarat-isyarat listrik dengan aneka panjang gelombang. Lagi-lagi otak kita mengubah isyarat-isyarat ini menjadi warna-warna. Tidak ada warna di "dunia luar." Lemon tidak kuning, dan langit tidak biru, dan pepohonan tidak hijau. Semua itu demikian karena kita mengesaninya demikian. "Dunia luar" bergantung sepenuhnya kepada si pengesan. Buta warna adalah petunjuk penting hal ini. Bahkan kerusakan terkecil pada retina mata menyebabkan buta warna. Sebagian orang mengesani biru sebagai hijau, dan sebagian lagi merah sebagai biru. Di sini, tak masalah apakah benda luar itu berwarna atau tidak.
Menurut pemikir terkemuka Berkeley:
Jika benda yang sama bisa merah dan panas bagi sebagian orang dan sebaliknya bagi sebagian yang lain, ini berarti bahwa kita di bawah pengaruh kesalahan pemahaman dan bahwa "benda-benda" hanya ada di dalam otak kita. 410
Kesimpulannya, alasan kita melihat benda-benda berwarna bukan karena semua itu berwarna atau memiliki keberadaan hakiki tersendiri di luar diri kita. Jika saja warna-warni ada di luar kita, cacat seperti buta warna tidak akan ada. Kebenaran materi itu lebih karena semua sifat yang kita sematkan ke benda-benda ada di dalam diri kita dan bukan di "dunia luar."
Apakah Keberadaan "Dunia Luar" Suatu Keharusan?
Sejauh ini, kita telah berkali-kali membicarakan keberadaan suatu dunia kesan yang terbentuk di dalam otak kita, dan membuat pernyataan bahwa kita sebenarnya tak pernah dapat mencapai dunia ini. Lalu, bagaimanakah kita bisa yakin dunia kesan seperti itu benar-benar ada?
Sebenarnya, kita tidak bisa. Karena setiap benda hanyalah sekumpulan kesan dan kesan-kesan itu hanya ada di dalam pikiran, lebih cermat bagi kita untuk mengatakan bahwa dunia yang benar-benar ada adalah dunia kesan. Satu-satunya dunia yang kita ketahui adalah dunia yang ada di dalam pikiran kita: suatu dunia yang dirancang, direkam, dan dihidupkan di dalamnya; satu dunia yang, singkatnya, diciptakan di dalam pikiran kita. Inilah satu-satunya dunia yang bisa kita yakini.
Kita tak pernah dapat membuktikan bahwa kesan-kesan yang kita amati di dalam otak memiliki kaitan yang hakiki. Kesan-kesan itu mungkin saja datang dari sumber "buatan."
Kita bisa membayangkan hal ini dengan contoh berikut:
Pertama, mari bayangkan bahwa otak Anda dikeluarkan dari tubuh Anda dan dijaga tetap hidup secara buatan di dalam sebuah tabung kaca. Di sebelahnya, ditaruh sebuah komputer yang dengannya semua jenis isyarat listrik dapat dihasilkan. Lalu, mari kita hasilkan dan rekam secara buatan data yang terkait dengan suatu suasana, seperti citra, suara, bau, keras-lembut, rasa, dan citra tubuh. Percobaan dengan otak Anda ini, yang dikeluarkan dari tubuh Anda, akan dilakukan di puncak gunung yang sunyi. Akhirnya, mari kita sambungkan komputer ke otak dengan elektroda-elektroda yang akan berfungsi sebagai syaraf dan meneruskan data hasil rekaman ke otak Anda yang kini berada tinggi di atas awan. Sambil mengesani isyarat-isyarat ini, otak Anda (yang sejatinya adalah Anda) akan melihat dan mengalami suasana yang bersangkutan. Misalnya, anggap bahwa setiap rincian yang timbul di dalam pikiran tentang pertandingan sepak bola di sebuah stadion dihasilkan atau direkam—dengan cara yang akan dikesani lewat organ-organ indera. Di dalam otak Anda, sendirian di puncak gunung, dengan alat perekam terhubungkan dengannya, Anda akan merasa seakan sedang mengalami suasana buatan ini. Anda akan berpikir bahwa Anda sedang di sebuah pertandingan. Anda akan bergembira, kadang geram dan kadang senang. Lebih lagi, Anda akan sering bersinggungan dengan orang lain karena padatnya penonton, dan oleh karena itu, merasakan keberadaan mereka juga. Yang paling menarik, semuanya demikian hidup sehingga Anda tak pernah meragukan keberadaan suasana ini maupun tubuh Anda. Atau jika dikirimkan ke otak Anda isyarat-isyarat listrik yang terkait dengan pemandangan, pendengaran, dan sentuhan yang Anda kesani ketika duduk di sebuah meja, otak Anda akan berpikir tentang dirinya sebagai seorang pengusaha yang sedang duduk di kantornya. Dunia khayalan ini akan berlangsung sepanjang rangsangan terus datang dari komputer. Tidak akan pernah mungkin memahami bahwa Anda terdiri hanya dari otak saja. Ini karena yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah dunia di dalam otak Anda bukanlah keberadaan sebuah dunia nyata, melainkan rangsangan-rangsangan. Bahwa rangsangan-rangsangan ini berasal dari suatu sumber buatan, seperti alat perekam atau sumber kesan lainnya, adalah sangat mungkin. Percobaan-percobaan yang dilakukan tentang hal ini menunjukkan fakta tersebut.
Di Amerika Serikat, Dr. White dari Cleveland Hospital, bersama para sejawatnya, yang semuanya pakar di bidang elektronik, membuat terobosan besar dalam menghidupkan "cyborg." Yang berhasil dilakukan Dr. White adalah memisahkan otak kera dari tengkoraknya dan memberinya oksigen dan darah. Otak ini, yang dihubungkan ke "mesin jantung-paru-paru" buatan, dipertahankan hidup selama lima jam. Peranti, yang disebut EEG (Electro Encephalogram), yang dihubungkan ke otak yang dipisahkan ini, mencatat dalam rekaman EEG-nya bahwa bising yang dibuat di sekitaran didengar oleh otak ini dan bahwa otak ini bereaksi terhadap bising itu.411
Sebagaimana telah kita lihat, sangat mungkin bahwa kita mengesani sebuah dunia luar lewat rangsangan buatan yang dipasok dari luar. Lambang-lambang yang akan Anda kesani dengan kelima indera Anda memadai untuk hal ini. Selain dari lambang-lambang ini, tiada lagi yang tersisa dari dunia luar.
Memang kita sangat mudah disesatkan untuk memercayai kesan-kesan, tanpa kaitan yang hakiki, sebagai nyata. Kita sering mengalami perasaan ini di dalam mimpi kita, tempat kita mengalami banyak kejadian, menemui orang-orang, benda-benda, dan suasana-suasana yang tampak benar-benar nyata. Akan tetapi, semua itu, tanpa kecuali, hanyalah kesan. Tiada perbedaan dasar antara dunia "mimpi" dan "nyata"; keduanya dialami di dalam otak.
Siapakah Sang Pengesan?
Sebagaimana telah diuraikan sejauh ini, tiada keraguan bahwa dunia yang kita pikir kita tinggali dan kenal sebagai "dunia luar" dikesani di dalam otak kita. Akan tetapi, di sini muncul sebuah pertanyaan yang sangat penting. Apakah kehendak yang menangkap semua kesan ini adalah sang otak sendiri?
Ketika mengurai otak, kita melihat bahwa otak tersusun dari molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada organisme-organisme hidup lain. Sebagaimana telah diketahui, intisari protein-protein ini sebenarnya adalah atom-atom. Ini berarti di dalam sekerat daging yang kita sebut "otak" kita, tak ada sesuatu untuk mengamati citra, membentuk kesadaran, atau menciptakan suatu wujud yang kita sebut "diriku."
R.L. Gregory merujuk ke kekeliruan yang dibuat orang terkait dengan citra-citra di otak:
Ada godaan, yang harus dihindari, untuk mengatakan bahwa mata menghasilkan gambar-gambar di dalam otak. Sebuah gambar di dalam otak menggagaskan adanya kebutuhan akan semacam mata dalam (internal) untuk melihatnya—namun, gambar dari mata kedua akan memerlukan sebuah mata lagi untuk melihatnya.. dan seterusnya, dalam suatu pusaran tak berujung mata dan gambar. Ini tak masuk akal. 412
Inilah hal yang menempatkan para materialis, yang tak memercayai apa pun sebagai benar selain materi, ke dalam kebingungan: milik siapakah "mata di dalam" yang melihat, yang menafsirkan apa yang dilihatnya dan menanggapinya?
Karl Pribram juga memusatkan perhatian ke pertanyaan penting ini, tentang siapakah sang pengesan, di dalam dunia ilmiah dan filsafat:
Para filsuf sejak zaman Yunani telah menduga-duga tentang "hantu" di dalam mesin, "manusia kecil di dalam manusia kecil," dst. Di manakah sang saya—benda yang menggunakan otak ini? Siapakah yang melakukan pengenalan yang sebenarnya? Atau, sebagaimana pernah dikatakan St. Fransiskus dari Assisi, "Yang sedang kita cari adalah yang sedang mencari." 413
Sekarang, renungkan hal ini: buku yang ada di tangan Anda, ruangan tempat Anda berada, singkatnya, semua citra di hadapan Anda terlihat di dalam otak Anda. Apakah atom-atom yang melihat semua citra ini? Atom-atom yang buta, bisu, dan tak sadar? Bagaimanakah atom-atom yang mati dan tak sadar merasakan, bagaimanakah atom-atom melihat? Mengapakah sebagian atom memperoleh sifat-sifat ini sementara sebagian lain tidak? Apakah tindakan-tindakan kita berpikir, memahami, mengingat, merasa gembira, merasa sedih, dan semua lainnya tersusun dari reaksi-reaksi elektrokimiawi di antara atom-atom ini? Tidak, otak tak bisa menjadi kehendak yang melakukan semua ini.
Dalam ruas-ruas sebelumnya, kami telah mengemukakan bahwa tubuh kita juga termasuk di dalam kumpulan kesan yang kita sebut "dunia luar." Maka, karena otak kita bagian dari tubuh kita, ia juga bagian dari kumpulan kesan itu. Karena otak kita sendiri suatu kesan, otak tak mungkin menjadi kehendak yang menangkap kesan-kesan lainnya.
Di dalam bukunya, The ABC of Relativity (Serba-Serbi Kenisbian), Bertrand Russel memusatkan perhatian kepada masalah ini dengan mengatakan:
Tentu saja, jika materi secara umum harus diartikan sebagai sekumpulan peristiwa, ini harus juga berlaku bagi mata, syaraf penglihatan, dan otak.414
Jelaslah bahwa wujud yang melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan wujud yang adiwujud (supramaterial). Karena materi tidak bisa berpikir, merasa, bersenang, atau bersedih. Mustahil melakukan semua ini hanya dengan tubuh saja. Oleh karena itu, wujud ini bukan materi, bukan juga citra, namun "hidup." Wujud ini bertutur kepada "layar" di depannya menggunakan citra tubuh kita.
DUNIA DALAM MIMPI
Bagi Anda, kenyataan adalah semua yang dapat disentuh tangan dan dilihat mata. Dalam mimpi, Anda juga dapat "menyentuh dengan tangan dan melihat dengan mata," tetapi nyatanya, Anda tak bertangan maupun bermata, juga tidak ada apa-apa yang dapat Anda sentuh atau lihat. Tiada keniscayaan material yang dapat membuat semua ini terjadi selain otak Anda. Anda sekadar sedang diperdaya.
Apakah yang memisahkan kehidupan nyata dari mimpi? Pada akhirnya, kedua bentuk kehidupan ini diwujudkan di dalam otak. Jika kita mampu hidup dengan mudah di dunia yang tak nyata selama mimpi kita, hal yang sama dapat juga terjadi di dunia tempat kita hidup. Ketika kita terjaga dari sebuah mimpi, tiada alasan yang masuk akal untuk tak berpikir bahwa kita telah memasuki mimpi yang lebih panjang yang kita sebut "kehidupan nyata." Alasan mengapa kita menganggap bahwa mimpi kita sekadar lelucon dan dunia ini kenyataan tak lain hasil kebiasaan dan prasangka kita. Ini berarti kita mungkin saja dibangkitkan dari kehidupan di bumi yang kita pikir sedang kita jalani saat ini, seperti baru saja terjaga dari mimpi.
Sebuah contoh tentang mimpi akan menerangkan lebih jauh masalah ini. Bayangkanlah (sesuai dengan yang telah diuraikan sejauh ini) bahwa kita melihat mimpi di dalam otak kita. Di dalam mimpi, kita memiliki sesosok tubuh khayalan, sebelah lengan khayalan, sebiji mata khayalan, dan sebuah otak khayalan. Jika selama mimpi, kita ditanya, "Di manakah Anda melihat?" kita akan menjawab, "Saya melihat di dalam otak saya." Jika kita ditanya di manakah dan seperti apakah otak kita, kita akan memegang kepala khayalan kita pada tubuh khayalan kita dengan tangan khayalan kita dan mengatakan, "Otak saya adalah sebongkah daging di dalam kepala saya yang bobotnya tak lebih dari satu kilo."
Namun, sebenarnya tidak ada otak apa pun untuk dibahas, melainkan sebuah kepala khayalan dan sebuah otak khayalan. Si pemandang citra-citra ini bukanlah otak khayalan di dalam mimpi, namun "wujud" yang jauh "mengunggulinya."
Kita mengetahui bahwa tak ada perbedaan fisik antara suasana sebuah mimpi dan suasana yang kita sebut kehidupan nyata. Jadi, ketika kita disodori pertanyaan di atas di dalam suasana yang kita sebut kehidupan nyata: "Di manakah Anda melihat?", akan sama tanpa maknanya untuk menjawab "di dalam otak saya" sebagaimana di dalam contoh di atas. Pada kedua keadaan, benda yang melihat dan mengesani bukanlah otak, yang bagaimana pun cuma sebongkah daging. Menyadari fakta ini, Bergson mengatakan di dalam bukunya, Matter and Memory (Materi dan Ingatan), secara ringkas, bahwa, "Dunia tersusun dari citra-citra, citra-citra ini hanya ada di dalam kesadaran kita; dan otak salah satu dari citra-citra itu."415
Maka, karena otak kita bagian dari dunia luar, harus ada kehendak yang mengesani semua citra ini. Wujud itu adalah "jiwa."
Kumpulan kesan yang kta sebut "dunia materi" tak lebih dari sebuah mimpi yang diamati oleh jiwa ini. Sama seperti tubuh yang kita miliki dan dunia materi yang kita lihat di dalam mimpi tak memiliki kenyataan, alam semesta yang kita diami dan tubuh yang kita miliki juga tak memiliki kenyataan hakiki. Filsuf terkenal Inggris David Hume mengungkapkan pemikirannya tentang fakta ini:
Di sisi saya, ketika sedalam-dalamnya memasuki yang saya sebut diri saya, selalu saya terantuk pada satu atau lain kesan tertentu, panas atau dingin, terang atau suram, cinta atau benci, duka atau suka. Kapan pun tak pernah saya dapat menangkap diri saya tanpa sebuah kesan, dan tak pernah saya dapat mengamati sesuatu selain kesan.416
Wujud yang nyata itu adalah jiwa. Materi semata-mata terdiri dari kesan yang terlihat jiwa. Wujud cerdas yang menulis dan membaca kalimat ini bukanlah sekumpulan atom dan molekul dan reaksi kimia di antara keduanya, namun sesosok "jiwa."
Wujud Mutlak yang Nyata
Semua fakta ini membawa kita berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang sangat penting. Jika benda yang kita akui sebagai dunia hakiki semata-mata terdiri dari kesan-kesan yang dilihat oleh jiwa kita, lalu apakah sumber kesan-kesan ini?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memikirkan yang berikut: materi tak memiliki keberadaan dengan kuasanya sendiri. Karena sebuah kesan, materi adalah sesuatu "yang dibuat." Yakni, kesan ini harus disebabkan oleh kekuasaan lain, yang berarti bahwa materi harus diciptakan. Lebih lagi, penciptaan ini harus sinambung. Jika tidak ada penciptaan yang sinambung dan tetap, maka yang kita sebut materi akan menghilang dan lenyap. Ini bisa disamakan dengan layar televisi tempat sebuah gambar ditayangkan selama gelombangnya terus dipancarkan. Jadi, siapakah yang membuat jiwa kita melihat bintang-gemintang, bumi, tetumbuhan, manusia, tubuh kita, dan segala sesuatu yang kita lihat?
Nyatalah bahwa ada sesosok Pencipta, Yang menciptakan seluruh alam materi, yakni, himpunan kesan, dan melanjutkan penciptaanNya tanpa henti. Karena Pencipta ini memperlihatkan penciptaan yang demikian luar biasa, Ia pastilah memiliki kekuasaan dan kekuatan yang kekal.
Pencipta ini mengenalkan diriNya kepada kita. Ia menurunkan sebuah kitab dan lewat kitab ini telah menguraikan diriNya, alam semesta, dan tujuan keberadaan kita.
Pencipta ini adalah Allah dan nama kitabnya adalah Al Qur’an.
Fakta-fakta bahwa langit dan bumi, yakni, alam semesta tidak baka, bahwa keberadaan semua itu hanya mungkin karena Allah menciptakannya dan bahwa semua itu akan lenyap ketika Ia mengakhiri penciptaan ini, semuanya dijelaskan di dalam sebuah ayat sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh, jika keduanya akan lenyap, tak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir, 35: 41)
Sebagaimana kami sebutkan di awal, sebagian orang tidak memiliki pemahaman yang murni tentang Allah dan karena itu membayangkan Allah sebagai suatu wujud yang ada di suatu tempat di langit dan tak benar-benar mencampuri urusan duniawi. Landasan penalaran ini sebenarnya terletak pada gagasan bahwa alam semesta ini sebuah kumpulan materi dan Allah ada "di luar" dunia materi ini, di suatu tempat nun jauh.
Akan tetapi, sebagaimana telah kami uraikan sejauh ini, materi tersusun hanya dari kesan-kesan. Dan satu-satunya wujud mutlak yang nyata adalah Allah. Ini berarti hanya Allah yang ada; segala sesuatu selain Dia hanyalah wujud-wujud semu. Akibatnya, mustahil memahami Allah sebagai terpisah dan di luar seluruh kumpulan materi ini. Sebab, sebenarnya tak ada sesuatu yang disebut materi dalam hal kewujudan. Allah pasti "di mana-mana" dan meliputi segala sesuatu. Keniscayaan ini dijelaskan di dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Baqarah, 2: 255)
Karena masing-masing wujud material itu sebuah kesan, semua wujud itu tak bisa melihat Allah; tetapi Allah melihat materi yang Dia ciptakan dengan segala bentuknya. Di dalam Al Qur’an, hal ini disebutkan demikian: "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan." (QS. Al An’âm, 6: 103)
Dengan kata lain, kita tak bisa memahami wujud Allah dengan mata kita, tetapi Allah sepenuhnya meliputi sisi dalam, sisi luar, penglihatan, dan pikiran kita. Karena itu, Allah berfirman bahwa "Dialah yang mengendalikan pendengaran dan penglihatan." (QS. Yunus, 10: 31) Kita tak dapat mengucapkan sepatah kata pun tanpa sepengetahuanNya, bahkan tidak juga kita dapat bernapas.
Ketika kita menyaksikan kesan-kesan inderawi dalam perjalanan hidup kita, wujud terdekat dengan kita bukanlah salah satu kesan ini. Ayat Al Qur’an berikut ini menegaskan keniscayaan ini: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qâf, 50: 16) Ketika seseorang berpikir bahwa tubuhnya hanya tersusun dari "materi," ia tak mampu memahami fakta penting ini. Jika ia menganggap otaknya adalah "dirinya," maka tempat yang dianggapnya sisi luar adalah 20-30 cm darinya. Menurut penalaran ini, tiada yang bisa lebih dekat baginya daripada urat lehernya. Akan tetapi, jika ia memahami bahwa tak ada sesuatu pun yang disebut materi, dan segala sesuatu sekadar khayalan, gagasan-gagasan seperti sisi luar, sisi dalam, jauh atau dekat, kehilangan makna. Allah meliputi dirinya dan "amat sangat dekat" dengannya.
Allah mengabari manusia bahwa Ia "amat sangat dekat" dengannya di dalam ayat: "Maka apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (dengan mereka)." (QS. Al Baqarah, 2: 186) Ayat lain menuturkan fakta yang sama: "Dan (ingatlah), ketika Kami mewahyukan kepadamu, ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.’" (QS. Al Isrâ, 17: 60) Akan tetapi, manusia disesatkan dengan berpikir bahwa wujud terdekat dengannya adalah dirinya sendiri. Sebenarnya, Allah bahkan lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri.
Dia telah menarik perhatian kita ke masalah ini dalam ayat: "Maka, mengapakah ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripadamu, tetapi kamu tidak melihat?" (QS. Al Wâqi’ah, 56: 83-85)
Satu-satunya kesimpulan yang dapat diambil dari keseluruhan fakta yang disajikan di sini adalah satu-satunya wujud yang mutlak dan nyata adalah Allah. Dengan pengetahuanNya, Allah meliputi manusia, yang merupakan wujud semu, maupun juga semua yang lainnya.
Yang sebaliknya berlaku bagi manusia, yang bukan sesuatu melainkan wujud semu, dan yang demikian bergantung kepada Allah, bahwa mustahil baginya memiliki kekuatan atau kehendak sendiri: "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah." (QS. Al Insân, 76: 30) Ayat lain yang menunjukkan bahwa semua yang kita alami terjadi atas izin Allah terbaca: "Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Ash Shâffaat, 37: 96) Di dalam Al Qur’an, kenyataan ini disebutkan pada banyak ayat dan dengan ayat "Bukan kamu yang melempar ketika melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al Anfâl, 8: 17), ditekankan bahwa tidak ada perbuatan yang lepas dari Allah.
Inilah kenyataannya. Seseorang mungkin tak ingin mengakuinya dan memikirkan dirinya sebagai sesosok wujud yang tak bergantung kepada Allah; namun hal ini tak berpengaruh apa-apa. Tentu saja, penolakannya yang tak bijaksana ini lagi-lagi atas kehendak dan keinginan Allah. Di dalam Al Qur’an, fakta ini diterangkan demikian:
Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadaNya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran, 3: 83)
Kesimpulan
Masalah yang telah kami jelaskan sejauh ini adalah salah satu kebenaran terbesar yang pernah Anda terima di dalam kehidupan Anda. Anda dapat menyelidiki lebih jauh lagi lewat perenungan pribadi. Karena itu, Anda harus memusatkan pikiran, mencurahkan perhatian, dan merenungkan cara melilhat pada benda-benda di sekitar Anda, serta cara Anda merasakan sentuhannya. Jika Anda berpikir dengan penuh perhatian, Anda bisa merasakan bahwa wujud cerdas yang melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan membaca buku ini pada saat ini hanyalah sesosok jiwa, yang menyaksikan kesan-kesan yang disebut "materi" pada sebuah layar. Seseorang yang memahami hal ini dianggap telah menjauhi alam materi yang memperdaya sebagian besar manusia, dan memasuki alam keberadaan sejati.
Keniscayaan ini telah dipahami sejumlah agamawan dan filsuf sepanjang sejarah. Kaum cendekiawan Islam seperti Imam Rabbani, Muhyidin Ibn al ‘Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat Al Qur’an dan lewat menggunakan penalaran mereka. Beberapa filsuf barat seperti George Berkeley telah menangkap kenyataan yang sama lewat penalaran. Imam Rabbani menulis di dalam kitab Maktubat (Surat-Surat) bahwa keseluruhan alam materi adalah sebuah "khayalan dan kesan" dan bahwa wujud yang mutlak adalah Allah:
Allah… hakikat wujud-wujud yang Ia ciptakan semata-mata ketiadaan… Ia menciptakan semua yang ada di dalam ruang kesan dan khayalan… Keberadaan alam semesta adalah di dalam ruang kesan dan khayalan, dan tidak hakiki… Dalam kenyataan, tak ada apa-apa di luar kecuali Sang Wujud Agung (Ialah Allah). 417
Maulana Jami mengatakan fakta yang sama, yang ditemukannya dari mengikuti tanda-tanda Al Qur’an dan menggunakan kecerdikannya: "Semua gejala alam semesta adalah kesan dan khayalan. Semua itu seperti pantulan di dalam cermin alias bayang-bayang."
Akan tetapi, jumlah mereka yang telah memahami fakta ini sepanjang sejarah selalu terbatas. Ulama-ulama besar seperti Imam Rabbani menulis bahwa mungkin tidak bijaksana untuk menyampaikan fakta ini kepada masyarakat umum karena sebagian besar orang tak mampu memahaminya.
Di masa kita hidup ini, hal itu telah ditegaskan sebagai sebuah fakta empiris oleh serangkaian petunjuk yang diajukan ilmu pengetahuan. Fakta bahwa alam semesta itu sesosok wujud semu diuraikan kali pertama dalam sejarah dengan cara yang demikian nyata, jelas, dan gamblang.
Karena alasan ini, abad ke-21 akan menjadi titik balik sejarah, ketika masyarakat secara umum memahami keniscayaan-keniscayaan ilahiah dan dibimbing beramai-ramai kepadaNya, satu-satunya Wujud yang Mutlak. Kepercayaan-kepercayaan materialistik abad ke-19 akan dilemparkan ke onggokan sampah sejarah, kewujudan dan penciptaan Allah akan diterima, ketiadaan ruang dan waktu akan dipahami; manusia, singkatnya, akan menyibakkan tabir, penipuan, dan takhayul yang berumur berabad-abad dan telah membingungkan mereka.
Mustahil jalan yang tak terelakkan ini dihalangi oleh wujud semu apa pun.
(di unduh dari http://harunyahya.com)
397 Orhan Hançerlioðlu, Düþünce Tarihi (History of Idea), Remzi Kitabevi, Ýstanbul: 1987, h.432.
398 Orhan Hançerlioðlu, Düþünce Tarihi (History of Idea), Remzi Kitabevi, Ýstanbul: 1987, h.447.
399 Frederick Vester, Denken, Lernen, Vergessen, vga, 1978, h. 6.
400 George Politzer, Principes Fondamentaux de Philosophie, Editions Sociales, Paris, 1954, h. 38-39-44.
401 Bilim ve Teknik Magazine (Science and Technology), No. 227, h. 6-7.
402 R.L.Gregory, Eye and Brain: The Psychology of Seeing, Oxford University Press Inc. New York, 1990, h.9. (tanda penegasan ditambahkan)
403 George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 1710, Works of George Berkeley, vol. I, ed. A. Fraser, Oxford, 1871. (tanda penegasan ditambahkan)
404 Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein, William Sloane Associate, New York, 1948, h. 20. (tanda penegasan ditambahkan)
405 Bertrand Russell, ABC of Relativity, George Allen and Unwin, London, 1964, h. 161-162. (tanda penegasan ditambahkan)
406 George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 1710, Works of George Berkeley, vol. I, ed. A. Fraser, Oxford, 1871 h. 35-36. (tanda penegasan ditambahkan)
407 Ali Demirsoy, Kalýtým ve Evrim (Inheritance and Evolution), h.4. (tanda penegasan ditambahkan)
408 Bertrand Russell, What is the Soul?, Works of George Berkeley, vol. I, ed. A. Fraser, Oxford, 1871. (tanda penegasan ditambahkan)
409 Bertrand Russell, Three Dialogues Between Hylas and Philonous, Works of George Berkeley, vol. I, ed. A. Fraser, Oxford, 1871. (tanda penegasan ditambahkan)
410 George Politzer, Principes Fondamentaux de Philosophie, Editions Sociales, Paris, 1954, h. 40.
411 Bilim ve Teknik Magazine (Science and Technology), No:111, h.2. (tanda penegasan ditambahkan)
412 R.L.Gregory, Eye and Brain: The Psychology of Seeing, Oxford University Press Inc. New York, 1990, h.9.
413 Ken Wilber, Holographic Paradigm and Other Paradoxes, h.20. (tanda penegasan ditambahkan)
414 Bertrand Russell, ABC of Relativity, George Allen and Unwin, London, 1964, h. 161-162. (tanda penegasan ditambahkan)
415 Henri Bergson, Matter and Memory, Zone Books, New York, 1991. (tanda penegasan ditambahkan)
416 David Hume, A Treatise of Human Nature, Book I, Section IV: Of Personal Identity. (tanda penegasan ditambahkan)
417 Ýmam Rabbani, Hz. Mektuplarý (Letters of Rabbani), Vol II, 357. Letter, h. 163. (tanda penegasan ditambahkan)
Sunday, January 17, 2010
Ma'rifat dan Ilmu Pengetahuan
Beberapa hari ini saya mencoba googling artikel-artikel yang berkaitan dengan istilah ma'rifat. Hal ini saya lakukan karena sewaktu saya ngobrol dengan teman saya beliau sering mematahkan saya dengan istilah ini. Waktu itu, di tengah kebingungan saya, saya katakan kalau saya akan mencoba mencari tau dulu baru, makanya saya ga banyak komentar (tidak ingin asal jeplak) saat kawan saya itu mematikan argumen saya dengan kata "ma'rifat"
Tapi rasanya, pengertian Marifat itu beragam sekali dan bias karena standarnya yang ga pasti. Beberapa artikel yang membahas ma'rifat malah kadang agak nyeleneh gitu dan bener-bener ga nyambung. Contohnya ada sebuah tulisan yang mengkonfrontasikan antara ilmu pengetahuan dengan ma'rifat (rasa-rasanya mirip sama temen saya juga nih), dengan judul "Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Ma'rifat", Silahkan baca tulisanya di sini
Terus terang saya merasa miris membacanya. Tampaknya ia gagal mengidentifikasi apa yang dinamakan ilmu pengetahuan dengan menyandingakanya dengan ma'rifat. Jelas ini adalah salah kaprah alias jauh apa dari panggang alis ga nyambung cing. Celakanya beliau menempatkan ma'rifat sebagai suatu istilah yang sakral serta menepis ilmu pengetahuan dengan konklusi berikut : "Kalau saling meng-ilmu-i (Bersikap ilmiah) antar bangsa akan saling berperang".
Sejak kapan orang bersikap ilmiah (baca:sesuai ilmu pengetahuan)akan menimbulkan perang? Bukankah sejarah perang timbul justru karena orang-orang bodoh yang haus kekuasaan, harta, tanah, kebanggaan akan ras dengan mengabaikan ilmu pengetahuan? Bukankah peradaban tertinggi manusia karena ilmu pengetahuan?
Definisi Ma’rifat
Mendengar ma’rifat umumnya orang selalu menghubungkan dengan sufi atau aliran sufi. Kondisi ini tampaknya wajar, mengingat istilah ini lebih banyak diperbincangkan oleh pengikut sufisme. Faktanya begitu jelas, jika Ma’rifat adalah pembahasan inti dari ajaran Islam, pastilah kurikulum sekolah-sekolah agama akan membahas dengan posri yang besar. Selain itu pembahasan ini akan kita dengar dimana-mana, mungkin juga akan terkait dengan cabang-cabang ilmu yang lainya. Bahkan sepengetahuan saya tidak pernah saya mendengarkan kata ma’rifat dalam kotbah-kotbah jum’at sekalipun. Itulah mengapa hanya sebagian kecil saja yang sibuk membahas istilah ini terutama kalangan sufisme yang beraneka ragam aliranya.
Sebenarnya tidak ada sebuah kesepakatan yang jelas tentang pengertian Ma’rifat, karena dalam Dunia Tasawuf pengertian Ma’rifat sulit untuk dimaknai secara tepat. Pengertiannya sampai saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada data-data empirik dan sudut pandang para ahli dalam menginterpretasikan pengertian Ma’rifat tersebut.
Menurut ahli bahasa, kata Ma’rifat diambil dari kata ‘Arafa, Ya’rifu, ‘Irfan, Ma’rifatan, yang artinya mengenal/mengetahui/pengalaman. Pada bidang khusus Marifat diartikan sebagai ilmu. Lebih lanjut dikatakan bahwa semua ilmu disebut Ma’rifat, dan semua Ma’rifat adalah ilmu, dan setiap orang memiliki ilmu (‘alim) tentang Allah SWT. berarti seorang yang ‘arif, dan setiap yang ‘arif berarti ‘alim. Berdasarkan pengertian ini orang yang berma’rifat adalah orang yang memiliki ilmu (‘arif).
Jika kita mengacu pada Al-Quran, kita tidak akan menemukan satupun kata ma’rifat secara tepat atau apa adanya. Tetapi ada sebuah terori yang mengatakan bahwa kata Ma’rifat diambil dari kata A’rafa, Yu’rifu, Irafan tetapi memiliki makna berbeda, seperti dalam surat al-A’raf yang berpengertian tempat tertinggi (tempat tertinggi antara Surga dan Neraka), yang akar katanya diturunkan dari ‘Irfan yang sesuai dengan Firman Tuhan (Al A’raaf:46)
وَبَيۡنَہُمَا حِجَابٌ۬ۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٌ۬ يَعۡرِفُونَ كُلاَّۢ بِسِيمَٮٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَـٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ (٤٦)
46. dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf[543] itu ada orang-orang yang Mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum[544]". mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
[543] Al A'raaf artinya: tempat yang tertinggi di antar surga dan neraka.
[544] Artinya: Mudah-mudahan Allah melimpahkan Kesejahteraan atas kamu.
Secara umum kata ma’rifat berarti mengenal atau mengetahui. Marifatullah berarti mengenal Allah, ma’rifatul Quran berarti mengenal Quran dan lain sebagainya. Jika diartikan dengan arti Mengenal/mengetahui, maka secara luas kata ma’rifat berarti sebuah upaya untuk memahami suatu objek terlepas ada tidaknya standar yang digunakan. Jika tidak ada standar yang jelas maka proses pengenalan objek ini akan bergantung pada subjeknya, tetapi kerap, mengingat standar yang sulit dipahami dan pengalaman bathin seseorang yang bisa jadi berbeda satu sama lainya (relatif). Inilah mengapa istilah ini melahirkan banyak aliran dalam kalangan sufisme.
Definisi Ilmu
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge.
Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama.
Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)”.
Dalam bahasa inggris (English reader’s dictionary) ilmu didefinisikan sebagai berikut :
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu sistem, terutama diperoleh melalui pengamatan dan pengujian fakta”)
Dalam r’s super New School and Office Dictionary ilmu diartikan berikut :
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh melalui belajar, pengamatan, percobaan”
Dari pengertian di atas, jelas bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”. Dengan definisi ini semakin jelas bahwa arti pengetahuan berbeda dengan ilmu atau dengan kata lain sesorang dapat saja memiliki pengetahuan dengan jalan tidak melalui ilmu terlepas dari hal itu benar atau salah.
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Berbeda dengan kata ma’rifat, didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu.
ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan fuirman ALLah:
“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)”
Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).
Jika kita mengacu pada definis ilmu diatas, maka ayat berikut berikut menjelaskan kepada kita bagaimana jalan mencari pengetahuan.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya malam dan siang, adalah pertanda (ayat) bagi Ulil albab. Yaitu orang-orang yang melakukan refleksi (tadzakkur) tentang Allah ketika mereka sedang berdiri, sedang duduk maupun sedang berbaring sambil memikirkan (tafakkur) tentang kejadian langit dan bumi. Dan mereka berkata “Tuhan kami, Engkau tak menciptakannya tanpa tujuan, Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka “ (QS 3 ;190-191).
Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5.
Marifat dan Ilmu Pengetahuan
Pembahasan ilmu pengetahuan menurut Al-Quran memerlukan pembahasan tersendiri mengingat begitu luas cakupanya. Tetapi setidaknya kita memahami bahwa Al-Quran sangat menekankan kita memahami tentang kekuasaan Allah melalu jalan ilmu (mengacu pada definisi), dimana kata ilmu berulangkali diucapkan, bukan ma’rifat, sufi atau istilah yang terkait lainya. Dengan kata lain, bahwa beribadah ini ada ilmu-nya dan ilmu adalah penuntun ibadah.
Jika kita memahami ma’rifat sebagai metode untuk mengenal Allah, maka kita akan memahami bahwa ma’rifat adalah sebuah cabang dari ilmu yaitu ilmu. Sebagaimana yang dilontarkan oleh al-Ghazali bahwa ada empat hal yang harus dikenal atau diketahui dan kemudian dipelajari oleh sesorang sehingga ia disebut berma’rifat, ke empat hal tersebut ialah (1) Mengenal siapa dirinya, (2) Mengenal siapa Tuhannya, (3) Mengenal Dunianya, (4) Mengenal Akhiratnya.
Jika demikian, maka menurut Gozali ma’rifat adalah akibat dari kita benar-benar memahami ilmu dan menjalankan ilmu tersebut secara konsisten dengan tidak memberatkaan pada sebuah pase atau memenggal dan memisahkan atau mem-porsikan bahwa satu bagian dari empat tersebut adalah merupakan hal terpenting. Dengan kata lain Gazali mengatakan bahwa untuk menuju ma’rifat maka diperlukan Ilmu pengetahuan (pengetahuan menurut jalan ilmu) sebagaimana kerap disebutkan dalam Al-Quran. Tampaknya jelas bahwa dalam hal ini ma’rifat yang dimaksud disini bukanlah derajat sesorang atau tingkatan-tingkatan manusia akan rasa/perasaan yang mengklaim dirinya sudah mengenal tuhan dengan sangat dekat atau bahkan telah menyatu dengan Tuhan seperti yang terjadi dalam kerahiban-kerahiban atau rabaniah-rabaniah dan juga beberapa aliran sufisme.
Jadi jika kita berbicara Ma’rifatullah, berarti kita bicara ilmu mengenal Allah yang tidak dapat dipisahkan dari cabang ilmu lainya yang sesuai dengan yang diharapkan Al-Quran. Jika kita menganalogikan Ilmu dengan sebuah rangkaian kereta yang terdiri dari lokomotif dan gerbong-gerbongnya, maka pengertian imu ma’rifat sejatinya adalah salah satu gerbong dari kereta tersebut. Mereka semua terkait dan dikaitkan. Tidak ada pemisahan antara gerbong-gerbong tersebut karena jika demikian maka akan ada kerusakan dan disfungsi dari kereta tersebut.
Faktanya istilah ma’rifat lebih sering memiliki arti dan maksud yang berbeda tergantung siapa yang bicara dan siapa yang diajak bicara. Maka dalam hal ini ia tidak memiliki sifat yang universal. Ketika kita membincangkan hal ini dengan kalangan sufi, bukan hal yang tidak mungkin kita kerap didikte oleh pernyataan-pernyataan yang menyalahkan bahwa kita tidak memahami arti kata ma’rifat dengan sebenarnya atau bahwa kita akan selalu diklaim sebagai orang yang melulu bicara dalam tingkatan syariat dan selanjutnya selanjutnya, seolah kita rendah dan bodoh ketika ketika membahas permasalahan-permasalahan tersebut. Jika demikian maka kita sering terpaksa untuk mendengarkan penjelasan mereka tentang ma’rifat dan istilah terkait lainya yang kerap sulit dicerna oleh akal sehat kita. Menurut saya ini merupakan indikasi ketidak universalan dari pemahaman ma’rifat dalam pemahaman aliran yang sangat mengutamakan pentingnya ma’rifat dalam hal beragama yang bahkan secara tdk langsung meremehkan urusan-urusan syariat dan muamalah yang telah banyak dicontohkan Rasullulah SAW. Padalah kehidupan didunia ini tidak pernah lepas dari permasalahan lahiriyah dan non lahiriyah dimana keduanya memiliki porsi yang seimbang.
Bertolak belakang dengan metode-metode Al-Quran yang menerangkan cara-cara meningkatkan kualitas ketaqwaan kita yang mudah dicerna dan menunjukan ke universalan ajaran Tuhan tanpa mengkotak-kotakan tingkatan baik starta sosial ataupun pemikiran, ma’rifat yang sering dibahas oleh sufisme kerap menuntut kita memahami sesuatu yang sulit dipahami dan memang tidak tidak dapat dipahami dalam kacamata seorang mahluk. Padahal agama menyeru kita kepada hal-hal sederhana yang mudah dipahami dan dipraktikan tanpa perlu teori yang berbeli-belit dan inilah sifat universalnya agama (tentunya agama Islam) yang terbebas dari unsur mitos dan hal-hal tidak masuk akal serta kontradiktif seperti yang telah terjadi pada agama-agama lain.
Mengingat perbedaan pemahaman tentang ma’rifat yang sudah mengkristal dan melahirkan banyak aliran-aliran yang mengklaim bahwa ilmu ma’rifat sebagai satu-satunya metode menuju jalan teragung menuju Allah SWT terlepas dari akhirnya menjadi tidak rasional sekalipun, maka bahasan Ma’rifat yang terkait dengan terminologi lainya teurmata sufisme akan kita bahas pada bahasan tersendiri.
Ma’rifat dapat diterima ketika yg dimaksud adalah sebuah metode untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan buka sebuah tingkatan dimana manusia merasa dekat dan bahkan menyatu dengan Tuhan seperti ucapan-ucapan yang kurang pantas para tokoh sufisme yang kontroversial seperti “anal haq”, “wahdatul wujud” dan lain sebagainya.
Ma’rifat dalam beberapa aliran sufi telah menjadi sebuah ideologi tersendiri yang bertentangan dengan Al-Quran. Salah satunya adalah keyakinan bodoh mereka bahwa seseorang bisa melihat Allah ketika di dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Lebih lanjut, umumnya kaum sufi punya keyakinan bahwa dunia dan seisinya diciptakan karena Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS. 51:56)
96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al Araf 7.96)
Jelas, tuhan tidak meminta kita untuk berma’rifat tetapi bertakwa. Wallahualam bisawab
Tapi rasanya, pengertian Marifat itu beragam sekali dan bias karena standarnya yang ga pasti. Beberapa artikel yang membahas ma'rifat malah kadang agak nyeleneh gitu dan bener-bener ga nyambung. Contohnya ada sebuah tulisan yang mengkonfrontasikan antara ilmu pengetahuan dengan ma'rifat (rasa-rasanya mirip sama temen saya juga nih), dengan judul "Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Ma'rifat", Silahkan baca tulisanya di sini
Terus terang saya merasa miris membacanya. Tampaknya ia gagal mengidentifikasi apa yang dinamakan ilmu pengetahuan dengan menyandingakanya dengan ma'rifat. Jelas ini adalah salah kaprah alias jauh apa dari panggang alis ga nyambung cing. Celakanya beliau menempatkan ma'rifat sebagai suatu istilah yang sakral serta menepis ilmu pengetahuan dengan konklusi berikut : "Kalau saling meng-ilmu-i (Bersikap ilmiah) antar bangsa akan saling berperang".
Sejak kapan orang bersikap ilmiah (baca:sesuai ilmu pengetahuan)akan menimbulkan perang? Bukankah sejarah perang timbul justru karena orang-orang bodoh yang haus kekuasaan, harta, tanah, kebanggaan akan ras dengan mengabaikan ilmu pengetahuan? Bukankah peradaban tertinggi manusia karena ilmu pengetahuan?
Definisi Ma’rifat
Mendengar ma’rifat umumnya orang selalu menghubungkan dengan sufi atau aliran sufi. Kondisi ini tampaknya wajar, mengingat istilah ini lebih banyak diperbincangkan oleh pengikut sufisme. Faktanya begitu jelas, jika Ma’rifat adalah pembahasan inti dari ajaran Islam, pastilah kurikulum sekolah-sekolah agama akan membahas dengan posri yang besar. Selain itu pembahasan ini akan kita dengar dimana-mana, mungkin juga akan terkait dengan cabang-cabang ilmu yang lainya. Bahkan sepengetahuan saya tidak pernah saya mendengarkan kata ma’rifat dalam kotbah-kotbah jum’at sekalipun. Itulah mengapa hanya sebagian kecil saja yang sibuk membahas istilah ini terutama kalangan sufisme yang beraneka ragam aliranya.
Sebenarnya tidak ada sebuah kesepakatan yang jelas tentang pengertian Ma’rifat, karena dalam Dunia Tasawuf pengertian Ma’rifat sulit untuk dimaknai secara tepat. Pengertiannya sampai saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada data-data empirik dan sudut pandang para ahli dalam menginterpretasikan pengertian Ma’rifat tersebut.
Menurut ahli bahasa, kata Ma’rifat diambil dari kata ‘Arafa, Ya’rifu, ‘Irfan, Ma’rifatan, yang artinya mengenal/mengetahui/pengalaman. Pada bidang khusus Marifat diartikan sebagai ilmu. Lebih lanjut dikatakan bahwa semua ilmu disebut Ma’rifat, dan semua Ma’rifat adalah ilmu, dan setiap orang memiliki ilmu (‘alim) tentang Allah SWT. berarti seorang yang ‘arif, dan setiap yang ‘arif berarti ‘alim. Berdasarkan pengertian ini orang yang berma’rifat adalah orang yang memiliki ilmu (‘arif).
Jika kita mengacu pada Al-Quran, kita tidak akan menemukan satupun kata ma’rifat secara tepat atau apa adanya. Tetapi ada sebuah terori yang mengatakan bahwa kata Ma’rifat diambil dari kata A’rafa, Yu’rifu, Irafan tetapi memiliki makna berbeda, seperti dalam surat al-A’raf yang berpengertian tempat tertinggi (tempat tertinggi antara Surga dan Neraka), yang akar katanya diturunkan dari ‘Irfan yang sesuai dengan Firman Tuhan (Al A’raaf:46)
وَبَيۡنَہُمَا حِجَابٌ۬ۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٌ۬ يَعۡرِفُونَ كُلاَّۢ بِسِيمَٮٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَـٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ (٤٦)
46. dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf[543] itu ada orang-orang yang Mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum[544]". mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
[543] Al A'raaf artinya: tempat yang tertinggi di antar surga dan neraka.
[544] Artinya: Mudah-mudahan Allah melimpahkan Kesejahteraan atas kamu.
Secara umum kata ma’rifat berarti mengenal atau mengetahui. Marifatullah berarti mengenal Allah, ma’rifatul Quran berarti mengenal Quran dan lain sebagainya. Jika diartikan dengan arti Mengenal/mengetahui, maka secara luas kata ma’rifat berarti sebuah upaya untuk memahami suatu objek terlepas ada tidaknya standar yang digunakan. Jika tidak ada standar yang jelas maka proses pengenalan objek ini akan bergantung pada subjeknya, tetapi kerap, mengingat standar yang sulit dipahami dan pengalaman bathin seseorang yang bisa jadi berbeda satu sama lainya (relatif). Inilah mengapa istilah ini melahirkan banyak aliran dalam kalangan sufisme.
Definisi Ilmu
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge.
Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama.
Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)”.
Dalam bahasa inggris (English reader’s dictionary) ilmu didefinisikan sebagai berikut :
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu sistem, terutama diperoleh melalui pengamatan dan pengujian fakta”)
Dalam r’s super New School and Office Dictionary ilmu diartikan berikut :
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh melalui belajar, pengamatan, percobaan”
Dari pengertian di atas, jelas bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”. Dengan definisi ini semakin jelas bahwa arti pengetahuan berbeda dengan ilmu atau dengan kata lain sesorang dapat saja memiliki pengetahuan dengan jalan tidak melalui ilmu terlepas dari hal itu benar atau salah.
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Berbeda dengan kata ma’rifat, didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu.
ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan fuirman ALLah:
“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)”
Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).
Jika kita mengacu pada definis ilmu diatas, maka ayat berikut berikut menjelaskan kepada kita bagaimana jalan mencari pengetahuan.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya malam dan siang, adalah pertanda (ayat) bagi Ulil albab. Yaitu orang-orang yang melakukan refleksi (tadzakkur) tentang Allah ketika mereka sedang berdiri, sedang duduk maupun sedang berbaring sambil memikirkan (tafakkur) tentang kejadian langit dan bumi. Dan mereka berkata “Tuhan kami, Engkau tak menciptakannya tanpa tujuan, Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka “ (QS 3 ;190-191).
Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5.
Marifat dan Ilmu Pengetahuan
Pembahasan ilmu pengetahuan menurut Al-Quran memerlukan pembahasan tersendiri mengingat begitu luas cakupanya. Tetapi setidaknya kita memahami bahwa Al-Quran sangat menekankan kita memahami tentang kekuasaan Allah melalu jalan ilmu (mengacu pada definisi), dimana kata ilmu berulangkali diucapkan, bukan ma’rifat, sufi atau istilah yang terkait lainya. Dengan kata lain, bahwa beribadah ini ada ilmu-nya dan ilmu adalah penuntun ibadah.
Jika kita memahami ma’rifat sebagai metode untuk mengenal Allah, maka kita akan memahami bahwa ma’rifat adalah sebuah cabang dari ilmu yaitu ilmu. Sebagaimana yang dilontarkan oleh al-Ghazali bahwa ada empat hal yang harus dikenal atau diketahui dan kemudian dipelajari oleh sesorang sehingga ia disebut berma’rifat, ke empat hal tersebut ialah (1) Mengenal siapa dirinya, (2) Mengenal siapa Tuhannya, (3) Mengenal Dunianya, (4) Mengenal Akhiratnya.
Jika demikian, maka menurut Gozali ma’rifat adalah akibat dari kita benar-benar memahami ilmu dan menjalankan ilmu tersebut secara konsisten dengan tidak memberatkaan pada sebuah pase atau memenggal dan memisahkan atau mem-porsikan bahwa satu bagian dari empat tersebut adalah merupakan hal terpenting. Dengan kata lain Gazali mengatakan bahwa untuk menuju ma’rifat maka diperlukan Ilmu pengetahuan (pengetahuan menurut jalan ilmu) sebagaimana kerap disebutkan dalam Al-Quran. Tampaknya jelas bahwa dalam hal ini ma’rifat yang dimaksud disini bukanlah derajat sesorang atau tingkatan-tingkatan manusia akan rasa/perasaan yang mengklaim dirinya sudah mengenal tuhan dengan sangat dekat atau bahkan telah menyatu dengan Tuhan seperti yang terjadi dalam kerahiban-kerahiban atau rabaniah-rabaniah dan juga beberapa aliran sufisme.
Jadi jika kita berbicara Ma’rifatullah, berarti kita bicara ilmu mengenal Allah yang tidak dapat dipisahkan dari cabang ilmu lainya yang sesuai dengan yang diharapkan Al-Quran. Jika kita menganalogikan Ilmu dengan sebuah rangkaian kereta yang terdiri dari lokomotif dan gerbong-gerbongnya, maka pengertian imu ma’rifat sejatinya adalah salah satu gerbong dari kereta tersebut. Mereka semua terkait dan dikaitkan. Tidak ada pemisahan antara gerbong-gerbong tersebut karena jika demikian maka akan ada kerusakan dan disfungsi dari kereta tersebut.
Faktanya istilah ma’rifat lebih sering memiliki arti dan maksud yang berbeda tergantung siapa yang bicara dan siapa yang diajak bicara. Maka dalam hal ini ia tidak memiliki sifat yang universal. Ketika kita membincangkan hal ini dengan kalangan sufi, bukan hal yang tidak mungkin kita kerap didikte oleh pernyataan-pernyataan yang menyalahkan bahwa kita tidak memahami arti kata ma’rifat dengan sebenarnya atau bahwa kita akan selalu diklaim sebagai orang yang melulu bicara dalam tingkatan syariat dan selanjutnya selanjutnya, seolah kita rendah dan bodoh ketika ketika membahas permasalahan-permasalahan tersebut. Jika demikian maka kita sering terpaksa untuk mendengarkan penjelasan mereka tentang ma’rifat dan istilah terkait lainya yang kerap sulit dicerna oleh akal sehat kita. Menurut saya ini merupakan indikasi ketidak universalan dari pemahaman ma’rifat dalam pemahaman aliran yang sangat mengutamakan pentingnya ma’rifat dalam hal beragama yang bahkan secara tdk langsung meremehkan urusan-urusan syariat dan muamalah yang telah banyak dicontohkan Rasullulah SAW. Padalah kehidupan didunia ini tidak pernah lepas dari permasalahan lahiriyah dan non lahiriyah dimana keduanya memiliki porsi yang seimbang.
Bertolak belakang dengan metode-metode Al-Quran yang menerangkan cara-cara meningkatkan kualitas ketaqwaan kita yang mudah dicerna dan menunjukan ke universalan ajaran Tuhan tanpa mengkotak-kotakan tingkatan baik starta sosial ataupun pemikiran, ma’rifat yang sering dibahas oleh sufisme kerap menuntut kita memahami sesuatu yang sulit dipahami dan memang tidak tidak dapat dipahami dalam kacamata seorang mahluk. Padahal agama menyeru kita kepada hal-hal sederhana yang mudah dipahami dan dipraktikan tanpa perlu teori yang berbeli-belit dan inilah sifat universalnya agama (tentunya agama Islam) yang terbebas dari unsur mitos dan hal-hal tidak masuk akal serta kontradiktif seperti yang telah terjadi pada agama-agama lain.
Mengingat perbedaan pemahaman tentang ma’rifat yang sudah mengkristal dan melahirkan banyak aliran-aliran yang mengklaim bahwa ilmu ma’rifat sebagai satu-satunya metode menuju jalan teragung menuju Allah SWT terlepas dari akhirnya menjadi tidak rasional sekalipun, maka bahasan Ma’rifat yang terkait dengan terminologi lainya teurmata sufisme akan kita bahas pada bahasan tersendiri.
Ma’rifat dapat diterima ketika yg dimaksud adalah sebuah metode untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan buka sebuah tingkatan dimana manusia merasa dekat dan bahkan menyatu dengan Tuhan seperti ucapan-ucapan yang kurang pantas para tokoh sufisme yang kontroversial seperti “anal haq”, “wahdatul wujud” dan lain sebagainya.
Ma’rifat dalam beberapa aliran sufi telah menjadi sebuah ideologi tersendiri yang bertentangan dengan Al-Quran. Salah satunya adalah keyakinan bodoh mereka bahwa seseorang bisa melihat Allah ketika di dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Lebih lanjut, umumnya kaum sufi punya keyakinan bahwa dunia dan seisinya diciptakan karena Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS. 51:56)
96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al Araf 7.96)
Jelas, tuhan tidak meminta kita untuk berma’rifat tetapi bertakwa. Wallahualam bisawab
Subscribe to:
Comments (Atom)