Tulisan ini sebagai jawaban saya atas pernyataan teman saya beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa pada tingkatan tertentu manusia bisa melihat Tuhan (dalam keadaan hidup). Sungguh saya tidak begitu paham maksudnya dan siapa orang yang dimaksudnya yang memiliki tingkatan yang dikatakanya sebagai ma’rifat tersebut? Suhunya (guru) kah?
Teman saya ini sangat yakin sekali dan sesekali dia mengeluarkan istilah-istilah ma’rifat, hakikat, tarikat dan sebagainya dan sebagainya dimana ma’rifat adalah tingkatan tertinggi dimana pada tingkatan itulah mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Dia sangat yakin sekali akan hal itu meskipun saya mempertanyakan dalilnya. Istilah ma’rifat turut menyumbang kebekuan dialog tersebut. Saya pikir saya harus mencari makalah-makalah sebagai referensi tentang ma’rifat agar saya bisa melanjutkan dialog tersebut.
Untuk itu, pada kesempatan ini saya saya mencoba menjawab pernyataan teman saya terutama tentang benarkah pada tingkatan tertentu manusia dapat melihat Tuhan? Untuk sementara saya tidak akan menggunakan istilah ma’rifat atau tingkatan manusia mengenal Tuhan dalam membuktikan lemahnya argumen kawan saya tersebut. Pembahasan ma’rifat akan saya bahas tersendiri dengan topik, “Marifat dan Ilmu”.
Kisah Nabi musa merupakan penjelasan yang paling gamblang bahwa seorang manusia yang membawa risalah Tuhan kepada manusia yang diyakini dapat berkata-kata langsung kepada Tuhan pun tidak pernah melihat Tuhan meskpun ia pernah mengutara kan keinginanya langsung kepada tuhan. Dengan kata lain keinginan tersbut tidak diwujudkan, justru Tuhan memperingatkan Musa untuk melihat ke sebuah bukit dimana Tuhan akan memperlihatkan dirinya kepada bukit yang berakibat hancurnya bukti itu. Hal ini untuk memberi pelajaran kepada Musa dan mengingatkan musa bahwa selama manusia hidup tak ada yang bisa melihat Tuhan seperti yang diceritakan dalam kisah beirikut :
Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Dari kisah tersebut jelas sekali bahwa Musapun tidak melihat Tuhan dan Tuhan tidak memperlihatkan diri NYA kepada Musa. Sebagai pelajaran bagi keinginan Musa untuk melihat Tuhan, Tuhan memperlihatnkan dirinya kepada Gunung agar musa mengerti. Dan semakin yakin dengan keberadaan Tuhan. Lalu pingsanlah ia begitu menyadari bahwa jika itu terjadi pada dirinya akan seperti apakah ia mengingat gunung pun hancur luluh.
Dilain ayat, al-quran pun menegaskan bahwa diri-NYA tidak bisa dilihat oleh manusia melalui mata seperti yang dijelaskan berikut :
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An’am : 103)
Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlas: 4)
Ini semakin menjelaskan bahwa tidak ada yang setara denganya. Artinya jika ada seorang mahluk ketika masih hidup dapat melihat Allah, maka ia pasti bisa menggambarkan ciri-ciri Allah berdasarkan penglihatanya, jika demikian gugurlah ayat yang menyatakan “tidak ada sesuatupun yang setara dengannya”
Dalam beberapa cerita umat Yahudi (Perjanjian lama) ada beberapa kisah nabi yang dapat meilihat Tuhan, bahkan ada nabi yang pernah bergumul dengan Tuhan dan nabi itu menang. Kita tidak layak percaya oleh kitab tersebut mengingat kitab tersebut telah mengalami campur tangan manusia bahkan ditulis oleh orang jauh setelah nabi tersebut tidak ada (penulis: Mr. X). Memang kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua informasi yang terdapat pada kitab itu salah. Tetapi jika ditinjau dari redaksinya telah terjadi inkonsistensi pada teks-teks tersebut telah menyebabkan banyaknya kontradiktif antara satu kisah dengan kisah lainya (Ini bukti bahwa mereka telah merubah kata-kata dari tempatnya dan mengatakan ini dari Allah). Sebagai contoh, pada kisah yang lainnya berkali-kali kitab itu menjelaskan bahwa tak seorang pun dapat melihat Tuhan termasuk para Nabi. Dan jelas ini sesuai dengan apa yang dikatakan Al-Quran, artinya pendapat terakhirlah yang layak dipercaya mengingat Al-Quran adalah batu ujian bagi kitab yang lainya yang di klaim berasal dari Tuhan. Atau anda akan mempercayai kisah yang mengatakan sebaliknya ?
Satu-satunya yang dapat dicerna adalah bahwa konteks teks yang menceritakn nabi melihat tuhan pada perjanjian lama bukanlah makna yang sebenarnya. Dibutuhkan pengetahuan teks asli dari bahasa asli para nabi tersbut untuk memahami apakah cerita tersebut sebuah kisah sesungguhnya ataukah sebuah ungkapan metaforis ?
Apakah Nabi Muhammad melihat Tuhan?
Pertanyaanya kembali mengapa Tuhan tidak menampakan diri kepada Musa melainkan memperlihatkanya kepada Bukit yang hancur luluh setelahnya? Ini menunjukan bahwa unsur/bahan materi manusia tidak akan dapat melihat Zat Tuhan yang Maha sempurna. Yang dapat menghancurkan bukit yang secara phisik jauh lebih besar dan lebih kuat dari manusia. Maka jika Musa tidak akan mampu hukum ini juga akan berlaku bagi manusia lainya, termasuk Muhammad, silahkan anda lihat pernyataan sang Nabi yang berkali-kali mengatakan bahwa dirinya adalah manusia seperti kita, hanya padanya diberi tugas mulia untuk memberikan kabar gembira kepada manusia.
Dalam hadits muttafaq alaih, dari Masruq, ketika bertanya kepada A’isyah , ia menjawab,
سُبْحَانَ اللهِ، لَقَدْ قَفَّ شَعْرِي مِمَّا قُلْتَ. مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم رَأَي رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ
Subhanallah, sungguh-sungguh bulu kudukku meremang mendengar apa yang kamu katakan. Barangsiapa yang menceritakan kepadamu bahwa Muhammad melihat RabbNya, maka sesungguhnya ia dusta. (Riwayat gabungan dari Shahih Bukhari/Fathul Bari XIII/361 no. 7380 dan Muslim/Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha III/13 no. 440. Lihat pula Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah dan catatan kaki Syeikh Al Albani t halaman 196)
Ada riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ,
وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلاَّ فِتْنَةً لِلنَّاسِ
Dan Kami tidak menjadikan penglihatan (terhadap hal-hal) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS Al Isra’ : 60).
Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksudkan ialah penglihatan dengan mata kepala terhadap hal-hal yang telah ditunjukan oleh Allah pada malam isra’.” (Shahih Bukhari/Fathul Bari VIII/398, hadits no. 4716)
Ibnu Hajr t menjelaskan, riwayat Ibnu Abbas tersebut tidak secara tegas menerangkan apa yang dilihat oleh Nabi dengan mata kepala beliau. Selanjutnya Ibnu Hajar t menjelaskan lagi, dengan menukil riwayat dari Sa’id bin Manshur dari jalan Abu Malik, “Yang dimaksudkannya ialah segala apa yang diperlihatkan kepada Nabi dalam perjalanannya ke Baitul Maqdis.” 5) [5) Lihat Fathul Bari VIII/398].
Riwayat ini tidak secara tegas menerangkan, bahwa Ibnu Abbas berpendapat, Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau.
Pada sisi lain, riwayat yang menegaskan bahwa Ibnu Abbas berpendapat, Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau sendiri (terdapat pada riwayat Ibnu Khuzaimah), dinyatakan dha’if oleh Al ‘Allamah Al Albani t .6)[6) Lihat catatan kaki Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah hal. 197]
Yang justeru shahih ialah riwayat ‘Atha’ dari Ibnu Abbas c , bahwa Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. 7)[7) Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi III/8, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha]
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 8)[ Lihat juz III/9-10 tahqiq Khalil Ma’mun Syiha] tampaknya cenderung memihak pada pendapat yang menyatakan, Nabi melihat Rabbnya dengan mata kepala beliau sendiri pada malam isra’. Beliau cenderung membenarkan riwayat Ibnu Abbas tentang Nabi melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri.
Sedangkan riwayat A’isyah , menurut beliau hanya ijtihad pribadi belaka, bukan berasal dari Nabi . Sementara Ibnu Abbas sebagai penerjemah ulung Al Qur’an, dianggapnya tidak mungkin berbicara tanpa ada sandaran riwayat dari Nabi .
Tetapi pendapat Imam Nawawi di atas terbantahkan dengan beberapa keterangan sebelumnya. Ibnu Abi Al Izz, Ibnu Taimiyah maupun Ibnu Al Qayyim menguatkan pendapat, Nabi tidak melihat Rabbnya pada malam isra’ dengan mata kepala.
Ibnu Abi Al Izz menukil pernyataan Al Qadhi ‘Iyadh, “Sejumlah jama’ah ulama berpendapat seperti pernyataan A’isyah , dan itulah yang masyhur dari Ibnu Mas’ud …” 9)[9) Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah hal. 196]
Bahkan Imam Ibnu Al Qayim dalam Zaad Al Ma’ad 10)[10) Juz III/33] menukil cerita Utsman bin Sa’id Ad Darimi yang menyatakan adanya kesepakatan para sahabat, bahwa Nabi tidak melihat Allah.
Pada kitab yang sama, Imam Ibnu Al Qayyim t juga menukil pernyataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Perkataan Ibnu Abbas , bahwa Nabi melihatNya.” Begitu pula perkataannya, “Nabi melihatNya dengan mata hatinya”, tidak bertentangan dengan ini (Nabi tidak melihatNya dengan mata kepala). Sebab memang ada riwayat yang shahih, bahwa Nabi bersabda,
رَأَيْتُ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَي
Aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta’ala (Hadits yang merupakan cuplikan dari hadits shahih yang panjang riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas, juga dari Mu’adz bin Jabal. 11)[11) Lihat Zaad Al Ma’ad, catatan kaki Syu’aib dan Abdul Qadir al-Arna’uth III/33-34]
Tetapi hal itu terjadi di luar isra’. Yaitu pada suatu hari di Madinah, ketika beliau terlambat mengimami shalat subuh. Lalu beliau menceritakan kepada mereka, bahwa pada malam harinya beliau bermimpi melihat Allah . Dari sanalah Imam Ahmad kemudian mengatakan, “Ya, Nabi memang benar-benar pernah melihat Allah. Sebab mimpi para nabi pasti benar.” Namun Imam Ahmad tidak pernah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi melihat Allah dengan mata kepala beliau dalam keadaan bangun…” 12)[12) Lihat Zaad Al Ma’ad, Tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir Al Arna’uth III/33-34 dengan ringkas dan bahasa bebas]
Artinya, bisa saja maksud Ibnu Abbas -jika riwayat itu benar-, bahwa Nabi melihat Allah dalam keadaan mimpi.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, pendapat yang kuat, bahwasannya Nabi tidak melihat Rabbnya pada malam isra’ dengan mata kepala beliau.
Apalagi ternyata terdapat riwayat shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya, sesungguhnya Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah . Beliau menjawab,
نُوْرٌ أَنَّى أَرَاهُ؟
Hanya cahaya. Bagaimana mungkin aku dapat melihat Allah?. 13)[13) Syarh Nawawi tahqiq Khalil Ma’mun Syiha III/15 no.442 dan juga no. 443]
Jadi yang beliau lihat hanyalah cahaya yang menghalangi antara dirinya dengan Allah . Wallahu a’lam
Mungkin ada beberapa pendapat yang mengklaim sebaliknya menggunakan dalil hadist tetapi itu akan berarti kontradiktif. Apa artinya? Mari kita kaji permasalahan ini dengan teliti. Keyakinan yang paling utama dalam hal ini adalah bahwa kita yakin nabi bukanlah seorang pendusta. Jadi tidak mungkin ia mengatakan kepada si A bahwa ia melihat Tuhan dengan mata dan Mengatakan kepada si B bahwa ia tidak melihat Tuhan secara kasat mata. Orang bisa saja memelintir hal ini dengan permainan kata-kata yang pada akhirnya tidak memiliki makna dengan mengatakan bahwa si B belum siap mendengarkan hal tersebut atau si B belum mencapai tingkatan kepada hal tersebut. Jelas nabi tidak akan berkata sesuatu kepada orang yang memang tidak siap untuk menerima sesuatu. Ajaran Islam bukan suatu hal yang pelik dan berbelit-belit seperti keyakinan bahwa yesus adalah 100% manusia dan 100% Tuhan atau teori-terori janggal tentung satu dalam tiga atau tiga dalam satu. Dalam Islam tidak ada teori-teori dan permainan kata sebagai pembenaran. Inilah islam tetapi manusianya yang membuat berbelit-belit dan bahkan membuat tingkatan-tingkatan berdasarkan klaim telah mengenal Allah lebih dekat dan dapat menyatu dengan Allah (wahdatul Wujud). Maha suci Allah dari apa yang mereka klaim.
Kembali kepada hadist, maka kita akan membuat konklusi bahwa jika ada lebih dari satu hadist yang saling bertentangan, maka hanya satu yang pasti benar tetapi bisa saja justru semuanya tidak benar. Hal yang terjadi pada kitab perjanjian lama (baca kumpulan kitab-kitab yang diklaim wahyu Tuhan dari para nabi Israel) tampaknya juga terjadi dengan hadist. Kita memahami kondisi bahwa penulisan dan pengumpulan hadist berbeda dengan penulisan Al-Quran dimana Allah SWT secara langsung menjaganya dari ketidak mustshilan, inkonsistensi ataupun kontradiktif bahkan Al-Quran menantang kita jika dirinya tidak berasal dari Allah maka kamu akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya (kontradiktif). Fakta munculnya hadist-hadist palsu juga merupakan pertimbangan betapa kita harus lebih kritis memahami dan memaknai hadist.
Tentu saja kita tidak menyamaratakan semua hadist kontradiktif dan tidak perlu dijadikan referensi, tetapi kita boleh menggugurkanya ketika ia bertentangan dengan Al-Quran dan bukti-bukti ilmiah (sesuai kaedah ilmu dan akal) meskipun sebelumnya hadist tersebut dikatan shahih sekalipun.
Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang perbedaan pendapat ini. Tetapi dalam hal ini saya berusaha memegang dalil yang kuat yaitu Al-Quran. Jika kita telaah, tak satu katapun yang menceritakan bahwa saat itu Adam, hawa dan iblis berkata-kata sambil melihat Allah seperti kita yang tengah berkominikasi dengan Atasan kita. Al-Quran memang menjelaskan tentang pembicaraan mereka kepada Allah. Tetapi ini bukanlah sebuah bukti bahwa mereka melihat Allah dengan mata mereka. Berkata langsung kepada Allah tidak pernah memiliki pengertian bahwa mereka melihat Allah. Sama seperti iblis, Nabi musa diyakini dapat berkata-kata langsung kepada Allah, tetapi ketika ia meminta Allah memperlihatkan dirinya, maka Allah memperingatkanya dengan kisah yang telah kita bahas di atas. No Way Musa.
Lantas bagaimana mungkin jika ada seseorang yang dengan tingkatan tertentu dikatakan mampu memperlihatkan orang lain akan wujud Tuhan seperti pernyataan teman saya itu? Maksud teman saya ini orang yang dapat melihat Tuhan itu dapat memperlihatkan Tuhan kepada orang lain sebagai pembuktian adanya Tuhan. Wah bagus juga tuh kalau memang bener, mungkin semua orang kafir ini jadi beriman setelah diperlihatkan. Lantas mengapa orang-orang yang mampu melihat Tuhan ini tidak memperlihatkan saja kepada pejabat kita yang korup biar mereka sadar atau binasa seperti bukit tursina? Bukankah berbuat untuk menyelamatkan manusia lainya dari penindasan pihak-pihak yang zalim adalah sebuah Jihad ?
Mungkin teman saya bisa bertanya kepada orang yang dikatakan bisa melihat wujud (zat) Tuhan itu dan meminta seperti apa ciri-cirinya. Lantas bagaimana kita yakin yang kita lihat itu adalah Tuhan bukan jin atau setan ? Tetapi yang terlebih penting jika ada yang pernah melihat tuhan berarti dia tau wujud tuhan dan sekali lagi ini akan bertentangan dengan Al-Quran, bahwa tak sesuatupun yang setara denganya (Tidak bisa digambarkan dengan apapun termasuk kata-kata).
Bagi saya cukup sudah bahwa keberadaan tuhan itu dibuktikan dengan akal dan ilmu pengetahuan yang terus membuktikan kebenaran NYA. Bukankah Al-Quran menyeru kepada kita untuk membuktikan keberadaaNYA melalui ciptaan-NYA ? Ilmunya ? termasuk penciptaan diri kita wahai kawan ?
Wallahualam bisawab
No comments:
Post a Comment