Beberapa hari ini saya mencoba googling artikel-artikel yang berkaitan dengan istilah ma'rifat. Hal ini saya lakukan karena sewaktu saya ngobrol dengan teman saya beliau sering mematahkan saya dengan istilah ini. Waktu itu, di tengah kebingungan saya, saya katakan kalau saya akan mencoba mencari tau dulu baru, makanya saya ga banyak komentar (tidak ingin asal jeplak) saat kawan saya itu mematikan argumen saya dengan kata "ma'rifat"
Tapi rasanya, pengertian Marifat itu beragam sekali dan bias karena standarnya yang ga pasti. Beberapa artikel yang membahas ma'rifat malah kadang agak nyeleneh gitu dan bener-bener ga nyambung. Contohnya ada sebuah tulisan yang mengkonfrontasikan antara ilmu pengetahuan dengan ma'rifat (rasa-rasanya mirip sama temen saya juga nih), dengan judul "Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Ma'rifat", Silahkan baca tulisanya di sini
Terus terang saya merasa miris membacanya. Tampaknya ia gagal mengidentifikasi apa yang dinamakan ilmu pengetahuan dengan menyandingakanya dengan ma'rifat. Jelas ini adalah salah kaprah alias jauh apa dari panggang alis ga nyambung cing. Celakanya beliau menempatkan ma'rifat sebagai suatu istilah yang sakral serta menepis ilmu pengetahuan dengan konklusi berikut : "Kalau saling meng-ilmu-i (Bersikap ilmiah) antar bangsa akan saling berperang".
Sejak kapan orang bersikap ilmiah (baca:sesuai ilmu pengetahuan)akan menimbulkan perang? Bukankah sejarah perang timbul justru karena orang-orang bodoh yang haus kekuasaan, harta, tanah, kebanggaan akan ras dengan mengabaikan ilmu pengetahuan? Bukankah peradaban tertinggi manusia karena ilmu pengetahuan?
Definisi Ma’rifat
Mendengar ma’rifat umumnya orang selalu menghubungkan dengan sufi atau aliran sufi. Kondisi ini tampaknya wajar, mengingat istilah ini lebih banyak diperbincangkan oleh pengikut sufisme. Faktanya begitu jelas, jika Ma’rifat adalah pembahasan inti dari ajaran Islam, pastilah kurikulum sekolah-sekolah agama akan membahas dengan posri yang besar. Selain itu pembahasan ini akan kita dengar dimana-mana, mungkin juga akan terkait dengan cabang-cabang ilmu yang lainya. Bahkan sepengetahuan saya tidak pernah saya mendengarkan kata ma’rifat dalam kotbah-kotbah jum’at sekalipun. Itulah mengapa hanya sebagian kecil saja yang sibuk membahas istilah ini terutama kalangan sufisme yang beraneka ragam aliranya.
Sebenarnya tidak ada sebuah kesepakatan yang jelas tentang pengertian Ma’rifat, karena dalam Dunia Tasawuf pengertian Ma’rifat sulit untuk dimaknai secara tepat. Pengertiannya sampai saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada data-data empirik dan sudut pandang para ahli dalam menginterpretasikan pengertian Ma’rifat tersebut.
Menurut ahli bahasa, kata Ma’rifat diambil dari kata ‘Arafa, Ya’rifu, ‘Irfan, Ma’rifatan, yang artinya mengenal/mengetahui/pengalaman. Pada bidang khusus Marifat diartikan sebagai ilmu. Lebih lanjut dikatakan bahwa semua ilmu disebut Ma’rifat, dan semua Ma’rifat adalah ilmu, dan setiap orang memiliki ilmu (‘alim) tentang Allah SWT. berarti seorang yang ‘arif, dan setiap yang ‘arif berarti ‘alim. Berdasarkan pengertian ini orang yang berma’rifat adalah orang yang memiliki ilmu (‘arif).
Jika kita mengacu pada Al-Quran, kita tidak akan menemukan satupun kata ma’rifat secara tepat atau apa adanya. Tetapi ada sebuah terori yang mengatakan bahwa kata Ma’rifat diambil dari kata A’rafa, Yu’rifu, Irafan tetapi memiliki makna berbeda, seperti dalam surat al-A’raf yang berpengertian tempat tertinggi (tempat tertinggi antara Surga dan Neraka), yang akar katanya diturunkan dari ‘Irfan yang sesuai dengan Firman Tuhan (Al A’raaf:46)
وَبَيۡنَہُمَا حِجَابٌ۬ۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٌ۬ يَعۡرِفُونَ كُلاَّۢ بِسِيمَٮٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَـٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ (٤٦)
46. dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf[543] itu ada orang-orang yang Mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum[544]". mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
[543] Al A'raaf artinya: tempat yang tertinggi di antar surga dan neraka.
[544] Artinya: Mudah-mudahan Allah melimpahkan Kesejahteraan atas kamu.
Secara umum kata ma’rifat berarti mengenal atau mengetahui. Marifatullah berarti mengenal Allah, ma’rifatul Quran berarti mengenal Quran dan lain sebagainya. Jika diartikan dengan arti Mengenal/mengetahui, maka secara luas kata ma’rifat berarti sebuah upaya untuk memahami suatu objek terlepas ada tidaknya standar yang digunakan. Jika tidak ada standar yang jelas maka proses pengenalan objek ini akan bergantung pada subjeknya, tetapi kerap, mengingat standar yang sulit dipahami dan pengalaman bathin seseorang yang bisa jadi berbeda satu sama lainya (relatif). Inilah mengapa istilah ini melahirkan banyak aliran dalam kalangan sufisme.
Definisi Ilmu
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge.
Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama.
Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)”.
Dalam bahasa inggris (English reader’s dictionary) ilmu didefinisikan sebagai berikut :
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu sistem, terutama diperoleh melalui pengamatan dan pengujian fakta”)
Dalam r’s super New School and Office Dictionary ilmu diartikan berikut :
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (“Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh melalui belajar, pengamatan, percobaan”
Dari pengertian di atas, jelas bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”. Dengan definisi ini semakin jelas bahwa arti pengetahuan berbeda dengan ilmu atau dengan kata lain sesorang dapat saja memiliki pengetahuan dengan jalan tidak melalui ilmu terlepas dari hal itu benar atau salah.
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Berbeda dengan kata ma’rifat, didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu.
ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan fuirman ALLah:
“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)”
Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).
Jika kita mengacu pada definis ilmu diatas, maka ayat berikut berikut menjelaskan kepada kita bagaimana jalan mencari pengetahuan.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya malam dan siang, adalah pertanda (ayat) bagi Ulil albab. Yaitu orang-orang yang melakukan refleksi (tadzakkur) tentang Allah ketika mereka sedang berdiri, sedang duduk maupun sedang berbaring sambil memikirkan (tafakkur) tentang kejadian langit dan bumi. Dan mereka berkata “Tuhan kami, Engkau tak menciptakannya tanpa tujuan, Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka “ (QS 3 ;190-191).
Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5.
Marifat dan Ilmu Pengetahuan
Pembahasan ilmu pengetahuan menurut Al-Quran memerlukan pembahasan tersendiri mengingat begitu luas cakupanya. Tetapi setidaknya kita memahami bahwa Al-Quran sangat menekankan kita memahami tentang kekuasaan Allah melalu jalan ilmu (mengacu pada definisi), dimana kata ilmu berulangkali diucapkan, bukan ma’rifat, sufi atau istilah yang terkait lainya. Dengan kata lain, bahwa beribadah ini ada ilmu-nya dan ilmu adalah penuntun ibadah.
Jika kita memahami ma’rifat sebagai metode untuk mengenal Allah, maka kita akan memahami bahwa ma’rifat adalah sebuah cabang dari ilmu yaitu ilmu. Sebagaimana yang dilontarkan oleh al-Ghazali bahwa ada empat hal yang harus dikenal atau diketahui dan kemudian dipelajari oleh sesorang sehingga ia disebut berma’rifat, ke empat hal tersebut ialah (1) Mengenal siapa dirinya, (2) Mengenal siapa Tuhannya, (3) Mengenal Dunianya, (4) Mengenal Akhiratnya.
Jika demikian, maka menurut Gozali ma’rifat adalah akibat dari kita benar-benar memahami ilmu dan menjalankan ilmu tersebut secara konsisten dengan tidak memberatkaan pada sebuah pase atau memenggal dan memisahkan atau mem-porsikan bahwa satu bagian dari empat tersebut adalah merupakan hal terpenting. Dengan kata lain Gazali mengatakan bahwa untuk menuju ma’rifat maka diperlukan Ilmu pengetahuan (pengetahuan menurut jalan ilmu) sebagaimana kerap disebutkan dalam Al-Quran. Tampaknya jelas bahwa dalam hal ini ma’rifat yang dimaksud disini bukanlah derajat sesorang atau tingkatan-tingkatan manusia akan rasa/perasaan yang mengklaim dirinya sudah mengenal tuhan dengan sangat dekat atau bahkan telah menyatu dengan Tuhan seperti yang terjadi dalam kerahiban-kerahiban atau rabaniah-rabaniah dan juga beberapa aliran sufisme.
Jadi jika kita berbicara Ma’rifatullah, berarti kita bicara ilmu mengenal Allah yang tidak dapat dipisahkan dari cabang ilmu lainya yang sesuai dengan yang diharapkan Al-Quran. Jika kita menganalogikan Ilmu dengan sebuah rangkaian kereta yang terdiri dari lokomotif dan gerbong-gerbongnya, maka pengertian imu ma’rifat sejatinya adalah salah satu gerbong dari kereta tersebut. Mereka semua terkait dan dikaitkan. Tidak ada pemisahan antara gerbong-gerbong tersebut karena jika demikian maka akan ada kerusakan dan disfungsi dari kereta tersebut.
Faktanya istilah ma’rifat lebih sering memiliki arti dan maksud yang berbeda tergantung siapa yang bicara dan siapa yang diajak bicara. Maka dalam hal ini ia tidak memiliki sifat yang universal. Ketika kita membincangkan hal ini dengan kalangan sufi, bukan hal yang tidak mungkin kita kerap didikte oleh pernyataan-pernyataan yang menyalahkan bahwa kita tidak memahami arti kata ma’rifat dengan sebenarnya atau bahwa kita akan selalu diklaim sebagai orang yang melulu bicara dalam tingkatan syariat dan selanjutnya selanjutnya, seolah kita rendah dan bodoh ketika ketika membahas permasalahan-permasalahan tersebut. Jika demikian maka kita sering terpaksa untuk mendengarkan penjelasan mereka tentang ma’rifat dan istilah terkait lainya yang kerap sulit dicerna oleh akal sehat kita. Menurut saya ini merupakan indikasi ketidak universalan dari pemahaman ma’rifat dalam pemahaman aliran yang sangat mengutamakan pentingnya ma’rifat dalam hal beragama yang bahkan secara tdk langsung meremehkan urusan-urusan syariat dan muamalah yang telah banyak dicontohkan Rasullulah SAW. Padalah kehidupan didunia ini tidak pernah lepas dari permasalahan lahiriyah dan non lahiriyah dimana keduanya memiliki porsi yang seimbang.
Bertolak belakang dengan metode-metode Al-Quran yang menerangkan cara-cara meningkatkan kualitas ketaqwaan kita yang mudah dicerna dan menunjukan ke universalan ajaran Tuhan tanpa mengkotak-kotakan tingkatan baik starta sosial ataupun pemikiran, ma’rifat yang sering dibahas oleh sufisme kerap menuntut kita memahami sesuatu yang sulit dipahami dan memang tidak tidak dapat dipahami dalam kacamata seorang mahluk. Padahal agama menyeru kita kepada hal-hal sederhana yang mudah dipahami dan dipraktikan tanpa perlu teori yang berbeli-belit dan inilah sifat universalnya agama (tentunya agama Islam) yang terbebas dari unsur mitos dan hal-hal tidak masuk akal serta kontradiktif seperti yang telah terjadi pada agama-agama lain.
Mengingat perbedaan pemahaman tentang ma’rifat yang sudah mengkristal dan melahirkan banyak aliran-aliran yang mengklaim bahwa ilmu ma’rifat sebagai satu-satunya metode menuju jalan teragung menuju Allah SWT terlepas dari akhirnya menjadi tidak rasional sekalipun, maka bahasan Ma’rifat yang terkait dengan terminologi lainya teurmata sufisme akan kita bahas pada bahasan tersendiri.
Ma’rifat dapat diterima ketika yg dimaksud adalah sebuah metode untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan buka sebuah tingkatan dimana manusia merasa dekat dan bahkan menyatu dengan Tuhan seperti ucapan-ucapan yang kurang pantas para tokoh sufisme yang kontroversial seperti “anal haq”, “wahdatul wujud” dan lain sebagainya.
Ma’rifat dalam beberapa aliran sufi telah menjadi sebuah ideologi tersendiri yang bertentangan dengan Al-Quran. Salah satunya adalah keyakinan bodoh mereka bahwa seseorang bisa melihat Allah ketika di dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Lebih lanjut, umumnya kaum sufi punya keyakinan bahwa dunia dan seisinya diciptakan karena Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS. 51:56)
96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al Araf 7.96)
Jelas, tuhan tidak meminta kita untuk berma’rifat tetapi bertakwa. Wallahualam bisawab
No comments:
Post a Comment